Tampilkan postingan dengan label Jawatengah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawatengah. Tampilkan semua postingan


Posong, sebuah tempat yang indah untuk menikmati pemandangan alam pegunungan.

Udah lama aku mendengar suatu nama daerah di Temanggung yang katanya penghasil kopi. Nama daerahnya adalah Posong. Jaraknya sih gak jauh dari Yogyakarta. Sekitar kurang dari 3 jam perjalanan menggunakan motor. Bagiku Posong menjadi lokasi wisata alternatif yang sangat rekomended buat dikunjungin ketika udah bosen mengeksplore wisata-wisata yang ada di Yogyakarta.

Pertama kali ke Posong langsung kagum dengan Kota Temanggung yang rapih dan cantik banget. Menurutku Temanggung ini liveable banget. Kotanya cantik tertata rapi dan ekonominya pun menggeliat. Pagi harinya ketika sepulang dari Posong bahkan aktivitas ekonomi para petani tembakau bisa dilihat di pinggir-pinggir jalan. Melihat mereka bekerja dengan latar belakang pegunungan cukup membuatku bahagia. Ah begitu damai rasanya tinggal di Temanggung. Pikirku sih begitu waktu main kesana.

Lokasi wisata Posong sebenernya cukup mudah untuk ditemukan. Bermodalkan dengan Google Maps, lokasinya mudah untuk dijangkau. Apalagi buat yang udah sering pergi ke Dieng lewat Kota Temanggung. Mungkin sudah tidak asing lagi dengan rute menuju Posong melewati rute ke arah Dieng jika dari Jogja. Buat yang dari Jogja, rute paling mudah yaitu mengikuti jalan Jogja-Magelang. Setelah itu ketika ada di pertigaan daerah Secang belok ke kiri. Kalo lurus terus kan berarti jalan menuju Semarang. Nah setelah itu baru ikuti jalan sampai kamu tiba di Temanggung Kota. Kamu akan melewati alun-alunnya yang indah. Jarak Posong dari Kota Temanggung juga gak terlalu jauh dan mudah banget ditemukan lewat maps. Jadi langsung saja ikuti petunjuk yang ada di maps. Nanti jika sudah memasuki daerah Posong, gapura masuknya ada di kanan jalan besar. Kamu harus masuk dulu ke sebuah perkampungan. Nah setelah masuk sekitar 100 meter akan ada loket masuk ke wisata Posong. Dari pos itu kamu bisa langsung membayar tiket dan langsung naik ke atas jika kamu naik motor. Namun kalau menggunakan mobil berarti harus menyewa jasa ojek motor karena akhir-akhir ini sedang ada perbaikan jalan menuju ke lokasi wisata.

Tiket masuk ke wisata Posong sebesar 10 ribu rupiah per orangnya. Kalo ingin camping disana menggunakan tenda sendiri harus membayar lagi sebesar sekitar 60 ribuan per orang. Kamu tinggal menempati tenda-tenda yang udah disediakan oleh pengelola disana. Tapi kalau punya tenda sendiri boleh banget dibawa saat kesana karena biayanya akan lebih murah lagi tentunya. Kalau kamu tipe orang yang tidak tahan dengan hawa dingin, lebih baik menginap di homestay yang banyak tersedia di sekitar Posong. Bahkan tepat di depan loket wisata Posong ada homestay reccomended yang murah dan ramah pemiliknya. Harganya sekitar 150ribu hingga 200 ribu per kamar. Jadi enak kan kalo ingin main ke Posong ramai-ramai. Gak perlu keluar duit banyak deh.


camping ditengah kebun kopi
Setelah melewati loket masuk pembayaran, kamu harus naik  lagi ke atas sekitar 1 km – 2 km menuju lokasi wisata Posong yang disana bakal terlihat Gunung Sindoro dan Sumbing yang gagah. Perjalanan naik ini yang cukup berat karena diperlukan skill berkendara dan kondisi motor yang prima. Namun jalannya sudah bagus dan di kanan kirinya terdapat perkebunanan milik warga.
Ketika sudah sampai di gardu pandang Posong, aku langsung kagum dengan keindahan Gunung Sindoro Sumbing yang gagah. Keren banget. Waktu itu langsung mikir “kalo males naik gunung lagi, kayaknya Posong bisa jadi obat kangen dengan suasana Gunung”

Pemandangan disana emang bener-bener indah. Bahkan jika beruntung pun kamu bisa lihat lautan awan. Pertama kali kesana aku ngerasa lucky banget karena bisa lihat sunrise yang indah banget dan dapet lautan awan yang yahuuuuuud. Tapi pemandangan Gunungnya agak-agak ketutup awan jadi gak begitu jelas. Namun waktu kali kedua aku kesana agak kecewa karena lautan awannya gak nampak lagi. Tapi sunrise nya bener-bener pecahhhh sih. Bagus banget deh pokoknya.







Jika sudah cukup capek ngeliatin pemandangan di gardu pandang, kamu bisa duduk-duduk di gazebo yang banyak disediakan disana. Kalau aku sih lebih milih duduk di warung yang buka dan pesen kopi Temanggung sambil makan tempe kemul favoritku dilengkapi dengan indomie rebus pake telor. Duh rasanya udah nikmat banget deh. Apalagi makan dengan liat view gunung. Makin menambah kenikmatan semangkuk indomie telor. Sayangnya gak banyak warung yang buka. Padahal waktu aku kesana juga pas weekend. Aku heran sendiri kenapa diantara banyak warung Cuma beberapa aja yang buka ya.


Kopi Temanggung dan Tempe Kemul

Wisata Posong ini cukup bisa mengobati rasa kangenku pada Gunung. Sekarang udah males banget buat naik Gunung. Tapi suasana wisata di Gunung yang dingin dingin menyenangkan itu gak bisa tergantikan dengan berkunjung ke tempat wisata lain. Dan Posong ini bisa mengobati rasa kangenku itu.
Apalagi tempat wisata Posong ini sudah dikelola dengan baik. Fasilitas disana lengkap banget mulai dari kamar mandi, gazebo, mushola, parkir luas, camping ground, sampai petugas-petugasnya pun ramah dan sigap.




Gak cuma jadi wisata buat anak muda, Posong ini bisa dikunjungi dengan keluarga. Bahkan orang tua yang udah gak kuat jalan jauh aja bisa diajak kesana. Karena kamu gak perlu naik atau jalan kaki lama-lama seperti kalo pergi ke wisata pegunungan gitu. Kamu cukup jalan dari parkir motor ke gardu pandangnya. Cuma selangkah aja lah. Makannya wisata ini ramai banget katanya kalau libur lebaran tiba. Karena jadi tempat wisata andalan buat keluarga-keluarga. Bahkan juga seringkali digunakan buat acara-acara camping satu kantor gitu.

Pokoknya kalo kesana kudu lihat sunrise-nya. Kalo kamu dari Jogja, bisa berangkat pas siang hari biar sampai sana sore. Malemnya tinggal santai api unggunan sama ngobrol bareng temen. Kalo kamu di jalannya pas malem hari, siap-siap kedinginan di perjalanan.

Jadi kamu tertarik juga gak ke Posong?



Jika kamu ingin belajar snorkling, Umbul Ponggoklah tempatnya. Disana kamu bisa berenang ditemani ikan-ikan air tawar yang cantik, pasti berasa seperti snorkling beneran tanpa takut terbawa ombak.



Belakangan ini nama Umbul Ponggok tentu sudah tidak asing lagi bagi para wisatawan. Tempat wisata air ini terletak di Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah. Dari Yogyakarta bisa ditempuh kurang lebih 1 jam perjalanan menggunakan kendaraan pribadi. Umbul Ponggok buka setiap hari mulai pukul 07.00 – 17.00 WIB. Wisata tirta ini berhasil membuat banyak pengunjung datang kesana karena keunikan kolamnya yang berbeda dari kolam renang pada umumnya. Keunikan dari tempat ini karena kolam renangnya bersumber dari mata air alami yang sudah ada sejak zaman Belanda. Menariknya lagi, kolam yang berukuran 50 x 25 meter dengan kedalamanan rata-rata 1,5 hingga 3 meter ini memiliki berbagai jenis ikan air tawar yang berwarna-warni didalamnya. tidak seperti kolam renang lainnya yang berkeramik, di kolam ini sengaja dibuat kesan alami sehingga dasar kolam pun tidak berkeramik. Jadi bisa dibayangkan sendiri bagaimana asyiknya berenang di kolam renang yang airnya segar, tidak berkaporit, dan ditemani ikan air tawar yang berwarna-warni.

Ikan Air Tawar yang berwarna-warni
Harga Murah, Fasilitas Tidak Murahan
Jika kita bandingkan harga tiket masuk wisata tirta Umbul Ponggol dengan harga tiket masuk wisata kolam renang yang ada di kota-kota besar, pastinya sangat berbeda jauh. Harga tiket masuk yang ditawarkan untuk ke tempat wisata tirta ini hanya sebesar 8000 rupiah. Tetapi jika ingin sekaligus menyewa perlengkapan lengkap seperti pelampung dan snorkling, pengunjung hanya membayar 20ribu rupiah. Harga ini termasuk murah, apalagi ditunjang dengan fasilitas yang sangat memadai seperti banyaknya kamar mandi/kamar mandi yang bersih, warung makan, tempat duduk, hingga fasilitas persewaan alat menyelam yang lengkap. Tidak heran banyak orang yang dari luar kota sengaja kesini hanya untuk mengunjungi wisata air Umbul Ponggok yang semakin terkenal itu. Pengunjung dimudahkan dengan semua fasilitas yang ada. Jadi kesana tinggal bawa duit dan kita sudah bisa belajar snorkling sepuasnya.

Spot Idaman Foto Underwater

Seorang teman yang berhasil mendapat foto underwater yang bagus

Banyak para fotografer maupun pengunjung yang sengaja datang kesini untuk memperoleh foto underwater yang cantik. Para pengelola pun memfasilitasi keinginan pengunjung dengan menyewakan berbagai alat yang digunakan untuk menunjang foto underwater. Seperti penyewaan kamera underwater yang diberi harga 100ribu per jamnya. Bagi yang memiliki smartphone berkamera dengan  resolusi tinggi, bisa juga untuk membeli casing tahan air seharga 20ribu rupiah. Jika untuk keperluan pemotretan yang lebih profesional, disana menyewakan berbagai properti yang menunjang fotografi underwater.
Jika ingin mendapatkan hasil foto underwater yang menarik, datanglah ketika pagi hari (pukul 07.00-09.00) dan hindari hari libur atau weekend karena bisa dipastikan tempat it akan full oleh pengunjung. Selain itu carilah spot yang banyak ikan berwarna-warni, sehngga ketika kita befoto didalam air, ikan warna-warni tersebut semakin mempercantik frame foto underwater kita. Setelah itu jangan menyerah untuk terus mencoba, agar hasil foto yang diinginkan maksimal.

Belajar Snorkling
 
Bersiap snorkling dengan peralatan lengkap

Kolam ini memiliki kedalaman sekitar 1,5-3 meter sehingga umumnya pengunjung yang tidak terlalu tinggi tidak bisa menapaki dasar kolam. Untuk itu perlu pelampung jika ingin tetap aman berenang di kolam ini. Namun bagi yang sudah bisa mahir berenang dan tidak takut kedalaman, maka bisa mencoba untuk menikmati keindahan warna-warni ikan air tawar yang ada disana. Untuk bisa snorkling dan menikmati keindahan ikan, pengunjung bisa menyewa peralatan snorkling yang tarifnya cukup murah. Tanpa menggunakan peralatan snorkling, kita tidak bisa melihat keindahan ikan yang berwarna-warni. Sempat saya mencopot peralatan snorkling karena saya tidak terlalu bisa memakainya, namun ternyata dengan mata telanjang saja saya tidak bisa melihat keindahan ikan-ikan dengan jelas.
Pada mulanya, kukira ber-snorkling itu mudah. Kita tinggal memakai alatnya kemudian tinggal nyebur dan berenang didalam air. Namun ternyata memakai peralatan snorkling didalam air tidak semudah yang saya bayangkan. Mungkin karena tidak terbiasa menyelam didalam air menggunakan alat snorkling jadi saya merasa kesulitan. Kadangkala air malah masuk lewat selang udara, atau bahkan kacamata kemasukan air sehingga saya sampai gelagepan. Namun saya tidak berhenti untuk mencoba. Dan pada akhirnya saya menyerah karena badan kedinginan dan tubuh sudah kaku ketika digerakkan dalam air. Namun karena itulah saya bertekad untuk kesana lagi. Mungkin di tempat yang sama, atau bisa jadi dikolam lain yang ada di Klaten, kita tunggu saja waktunya tiba.

Untuk kalian yang ingin ber-snorkling di lautan lepas dengan air yang berombak, coba dulu untuk belajar snorkling di Umbul Ponggok ini. Jika sudah mahir memakai alatnya, baru deh langsung terjun ke lautan lepas seperti di Kepulauan Seribu, Karimunjawa, atau bahkan ke Raja Ampat.




Masjid Menara Kudus Bentuk Akulturasi Budaya Hindu-Islam
Dulu  sebelum Agama Islam disebarkan oleh para Wali di bumi Nusantara, agama yang lebih dulu menjadi kepercayaan masyarakat yang hidup di Indonesia (Nusantara) adalah agama Hindu dan Budha. Kemudian para Wali menyebarkan Agama Islam keseluruh pelosok Nusantara dengan cara damai dan dengan proses akulturasi dan asimilasi budaya masyarakat. Cara berdakwah yang damai itulah yang akhirnya membuat Islam dapat diterima oleh masyarakat.


Proses asimilasi dan akulturasi budaya yang dilakukan oleh para wali dalam menyebarkan ajaran Agama Islam dimasukkan kedalam berbagai media, mulai dari kesenian, tradisi, hingga arsitektur. Sunan Kudus melakukan akulturasi budaya dalam pembuatan bangunan Masjid Menara Kudus (disebut juga dengan Masjid Al-Aqsa dan Masjid Al Manar). Masjid Menara Kudus adalah sebuah mesjid yang dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 1549 Masehi atau tahun 956 Hijriah dengan menggunakan batu Baitul Maqdis dari Palestina sebagai batu pertama. Masjid Menara Kudus ini terletak di desa Kauman, kecamatan Kota, kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Masjid yang hingga kini masih berdiri dengan gagahnya tersebut memiliki menara yang gaya arsitekturnya seperti candi-candi kerajaan Hindu-Budha. Hal inilah yang menjadikan Masjid Menara Kudus sangat istimewa dan berbeda dengan masjid-masjid lainnya. 

Keunikan Arsitektur Menara Kudus
Menara Kudus memiliki ketinggian sekitar 18 meter dengan bagian dasar berukuran 10 x 10 m. Di sekeliling bangunan dihias dengan piring-piring bergambar yang semuanya berjumlah 32 buah. Dua puluh buah di antaranya berwarna biru dengan berlukiskan masjid manusia dengan unta dan pohon kurma. Sementara 12 buah lainnya berwarna merah putih berlukiskan kembang.

Masjid Menara Kudus tersebut menjadi ikon Kota Kudus sekaligus menjadi tempat yang bersejarah. Di belakang masjid terdapat kompleks makam. Mulai dari makam Sunan Kudus dan Para ahli warisnya, tokoh lain seperti Panembahan Palembang, Pangeran Pedamaran, Panembahan Condro, dan lain-lain. Setiap harinya banyak sekali masyarakat yang berasal dari berbagai macam daerah datang kesana untuk berziarah ke Makam Sunan Kudus maupun Makam para Wali lainnya. Jika dibandingkan dengan Makam Wali yang ada di daerah lainnya, Makam Sunan Kudus dan kompleks Masjid Menara Kudus lebih terawat dan terpelihara dengan baik. Di daerah lain, seringkali kompleks Makam Wali kurang terurus sehingga kebersihan dan keamanannya kurang diperhatikan. 

Kompleks Makam Wali dan Ahli Warisnya
Ketika kita akan memasuki makam Sunan Kudus, kita akan melihat pos penjagaan yang disana terpampang LCD rekaman CCTV yang terpasang di setiap sudut makam. Kemudian di kompleks itu juga terdapat pendopo-pendopo yang bisa digunakan untuk duduk-duduk para peziarah. Kemudian ketika memasuki Makam Sunan Kudus pengunjung harus melepaskan alas kakinya. Didalam makam, pengunjung yang ingin membaca Al-Qur’an maupun tahlil sudah disediakan Al-Qur’an dan bacaan Tahlil yang tertata rapi di dalam rak. Disana juga terdapat beberapa buah kipas angin yang terpasang disetiap sudutnya. Sehingga peziarah tidak merasa kepanasan meskipun banyak peziarah yang ada dalam ruangan itu.

Suasana dan Arsitektur di dalam Masjid


Masjid Menara Kudus yang berdiri saat ini sudah mengalami perubahan dan perluasan. Namun ketika kita masuk kedalamnya, kita masih bisa melihat sisa-sisa bangunan tua saat pertama kali Masjid Menara didirikan. Sisa bangunan tua itu tetap dipertahankan dan semakin memperindah bangunan masjid itu. Kemudian ketika masuk kedalam ruangan Masjid yang digunakan untuk sholat, terdapat karpet merah yang semakin membuat ruangan itu menjadi lebih mempesona. Benar-benar masjid yang indah dan penuh dengan sejarah!

Parkir Area yang Asri dan Tertata Rapi

Tempat Sampah yang unik


Pengelola Masjid Menara Kudus memang benar-benar mengelola Masjid Menara Kudus dengan sangat baik. Mulai dari perawatan kebersihan masjid yang terjaga dengan baik, hingga Kenyamanan dan keamanan pengunjung sangat diperhatikan oleh pengelola. Ketika disana, saya tak melihat sampah berserakan satupun. Saya melihat petugas kebersihan yang membersihkan halaman yang sudah cukup bersih. Dari segi keamanan, adanya CCTV memudahkan petugas untuk memantau keadaan didalam dan disekitar makam. Pengunjung yang berdesak-desakan lebih terjaga keamanannya dari para oknum nakal, karena semuanya bisa dipantau dari CCTV. Hal ini sebenarnya bisa ditiru oleh Makam Para Wali lainnya, yang biasanya kurang dipedulikan kebersihanan, kenyamanan dan keamanannnya.