Tampilkan postingan dengan label alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alam. Tampilkan semua postingan


Posong, sebuah tempat yang indah untuk menikmati pemandangan alam pegunungan.

Udah lama aku mendengar suatu nama daerah di Temanggung yang katanya penghasil kopi. Nama daerahnya adalah Posong. Jaraknya sih gak jauh dari Yogyakarta. Sekitar kurang dari 3 jam perjalanan menggunakan motor. Bagiku Posong menjadi lokasi wisata alternatif yang sangat rekomended buat dikunjungin ketika udah bosen mengeksplore wisata-wisata yang ada di Yogyakarta.

Pertama kali ke Posong langsung kagum dengan Kota Temanggung yang rapih dan cantik banget. Menurutku Temanggung ini liveable banget. Kotanya cantik tertata rapi dan ekonominya pun menggeliat. Pagi harinya ketika sepulang dari Posong bahkan aktivitas ekonomi para petani tembakau bisa dilihat di pinggir-pinggir jalan. Melihat mereka bekerja dengan latar belakang pegunungan cukup membuatku bahagia. Ah begitu damai rasanya tinggal di Temanggung. Pikirku sih begitu waktu main kesana.

Lokasi wisata Posong sebenernya cukup mudah untuk ditemukan. Bermodalkan dengan Google Maps, lokasinya mudah untuk dijangkau. Apalagi buat yang udah sering pergi ke Dieng lewat Kota Temanggung. Mungkin sudah tidak asing lagi dengan rute menuju Posong melewati rute ke arah Dieng jika dari Jogja. Buat yang dari Jogja, rute paling mudah yaitu mengikuti jalan Jogja-Magelang. Setelah itu ketika ada di pertigaan daerah Secang belok ke kiri. Kalo lurus terus kan berarti jalan menuju Semarang. Nah setelah itu baru ikuti jalan sampai kamu tiba di Temanggung Kota. Kamu akan melewati alun-alunnya yang indah. Jarak Posong dari Kota Temanggung juga gak terlalu jauh dan mudah banget ditemukan lewat maps. Jadi langsung saja ikuti petunjuk yang ada di maps. Nanti jika sudah memasuki daerah Posong, gapura masuknya ada di kanan jalan besar. Kamu harus masuk dulu ke sebuah perkampungan. Nah setelah masuk sekitar 100 meter akan ada loket masuk ke wisata Posong. Dari pos itu kamu bisa langsung membayar tiket dan langsung naik ke atas jika kamu naik motor. Namun kalau menggunakan mobil berarti harus menyewa jasa ojek motor karena akhir-akhir ini sedang ada perbaikan jalan menuju ke lokasi wisata.

Tiket masuk ke wisata Posong sebesar 10 ribu rupiah per orangnya. Kalo ingin camping disana menggunakan tenda sendiri harus membayar lagi sebesar sekitar 60 ribuan per orang. Kamu tinggal menempati tenda-tenda yang udah disediakan oleh pengelola disana. Tapi kalau punya tenda sendiri boleh banget dibawa saat kesana karena biayanya akan lebih murah lagi tentunya. Kalau kamu tipe orang yang tidak tahan dengan hawa dingin, lebih baik menginap di homestay yang banyak tersedia di sekitar Posong. Bahkan tepat di depan loket wisata Posong ada homestay reccomended yang murah dan ramah pemiliknya. Harganya sekitar 150ribu hingga 200 ribu per kamar. Jadi enak kan kalo ingin main ke Posong ramai-ramai. Gak perlu keluar duit banyak deh.


camping ditengah kebun kopi
Setelah melewati loket masuk pembayaran, kamu harus naik  lagi ke atas sekitar 1 km – 2 km menuju lokasi wisata Posong yang disana bakal terlihat Gunung Sindoro dan Sumbing yang gagah. Perjalanan naik ini yang cukup berat karena diperlukan skill berkendara dan kondisi motor yang prima. Namun jalannya sudah bagus dan di kanan kirinya terdapat perkebunanan milik warga.
Ketika sudah sampai di gardu pandang Posong, aku langsung kagum dengan keindahan Gunung Sindoro Sumbing yang gagah. Keren banget. Waktu itu langsung mikir “kalo males naik gunung lagi, kayaknya Posong bisa jadi obat kangen dengan suasana Gunung”

Pemandangan disana emang bener-bener indah. Bahkan jika beruntung pun kamu bisa lihat lautan awan. Pertama kali kesana aku ngerasa lucky banget karena bisa lihat sunrise yang indah banget dan dapet lautan awan yang yahuuuuuud. Tapi pemandangan Gunungnya agak-agak ketutup awan jadi gak begitu jelas. Namun waktu kali kedua aku kesana agak kecewa karena lautan awannya gak nampak lagi. Tapi sunrise nya bener-bener pecahhhh sih. Bagus banget deh pokoknya.







Jika sudah cukup capek ngeliatin pemandangan di gardu pandang, kamu bisa duduk-duduk di gazebo yang banyak disediakan disana. Kalau aku sih lebih milih duduk di warung yang buka dan pesen kopi Temanggung sambil makan tempe kemul favoritku dilengkapi dengan indomie rebus pake telor. Duh rasanya udah nikmat banget deh. Apalagi makan dengan liat view gunung. Makin menambah kenikmatan semangkuk indomie telor. Sayangnya gak banyak warung yang buka. Padahal waktu aku kesana juga pas weekend. Aku heran sendiri kenapa diantara banyak warung Cuma beberapa aja yang buka ya.


Kopi Temanggung dan Tempe Kemul

Wisata Posong ini cukup bisa mengobati rasa kangenku pada Gunung. Sekarang udah males banget buat naik Gunung. Tapi suasana wisata di Gunung yang dingin dingin menyenangkan itu gak bisa tergantikan dengan berkunjung ke tempat wisata lain. Dan Posong ini bisa mengobati rasa kangenku itu.
Apalagi tempat wisata Posong ini sudah dikelola dengan baik. Fasilitas disana lengkap banget mulai dari kamar mandi, gazebo, mushola, parkir luas, camping ground, sampai petugas-petugasnya pun ramah dan sigap.




Gak cuma jadi wisata buat anak muda, Posong ini bisa dikunjungi dengan keluarga. Bahkan orang tua yang udah gak kuat jalan jauh aja bisa diajak kesana. Karena kamu gak perlu naik atau jalan kaki lama-lama seperti kalo pergi ke wisata pegunungan gitu. Kamu cukup jalan dari parkir motor ke gardu pandangnya. Cuma selangkah aja lah. Makannya wisata ini ramai banget katanya kalau libur lebaran tiba. Karena jadi tempat wisata andalan buat keluarga-keluarga. Bahkan juga seringkali digunakan buat acara-acara camping satu kantor gitu.

Pokoknya kalo kesana kudu lihat sunrise-nya. Kalo kamu dari Jogja, bisa berangkat pas siang hari biar sampai sana sore. Malemnya tinggal santai api unggunan sama ngobrol bareng temen. Kalo kamu di jalannya pas malem hari, siap-siap kedinginan di perjalanan.

Jadi kamu tertarik juga gak ke Posong?


Setelah sekian tahun berwacana untuk main ke Kota Malang, akhirnya kali ini benar-benar terealisasikan. Berawal dari janjiku buat datang ke acara wisudanya Viqy, maka kali inipun tanpa persiapan, tanpa babibu, tanpa pikir panjang, aku mendadak memutuskan untuk datang ke Malang. Perjalanan panjang pun kulalui dalam kesendirian sambil teringat sang Mantan di pulau seberang. Di sepanjang perjalanan pun aku hanya banyak diam dan bernostalgia akan kenangan masa lalu yang pahit. Berharap di Kota Malang bisa me-recharge body and soul dan bisa curhat dengan genk waktu SMA yang ada di Malang, Viqy, Feby, Dinok.



Sampai di Malang pukul 3 pagi dan aku langsung ke kosannya Dinok dengan pengantar setiaku yaitu Gojek. Thanks banget loh jek, kamu emang bisa diandalkan dimanapun dan kapanpun. Sampai di kosan Dinok lalu istirahat sebentar dan paginya datang ke acara wisudaan Viqy. Viqy beneran gak tahu kalau aku bakal kesana. Dan taraaa…. Di hari wisudanya suddenly aku muncul di hadapannya dan sukses membuat Viqy terkejut.. Sampai-sampai orang seperti Viqy yang bukan tipikal orang melankolis ternyata terharu juga melihat surprise kedatanganku. Disitu aku malah merasa ikut terharu. Ternyata masih banyak teman-temanku yang sayang dan tetap menghargai pertemuan. Thanks juga buat Dinok yang sudah mensukseskan ide kejutan ini. Tanpa Dinok pasti tak akan sesukses ini. Bahagia juga rasanya akhirnya bisa menepati janjiku buat datang ke Malang di hari wisudanya Viqy.

Setelah prosesi wisuda Viqy yang penuh dengan momen bahagia. Kemudian di Hari Minggu teman-teman yang ada di Malang memanjakanku dengan mengajak jalan-jalan. Karena aku masih kecapekan, maka Minggu pagi itu aku bangun kesiangan. Agenda awal untuk CFD-an di Malang pun akhirnya gagal karena sudah terlalu siang. Aku sih gak terlalu kecewa gara-gara gagal CFD, bahkan aku seneng jika ternyata gak jadi pergi ke CFD. Aku memang kurang suka keramaian. Aku anaknya lebih suka tempat-tempat yang rindang, alami, dan tidak terlalu bising. Akhirnya akupun diajak buat main ke Kabupaten Malang yaitu tepatnya di Desa Wisata Pujon. Disana ada sebuah tempat yang bernama Café Sawah. Sebuah cafe yang memiliki konsep alami dengan latar pemandangan alam dan pegunungan.





Awalnya aku sempat meng-underestimate tempat tersebut. “Ah tempat itu paling biasa aja. Cuma jual makanan dengan view sawah” batinku dalam hati sewaktu di perjalanan. Namun setelah sampai di lokasi akupun langsung suka dengan konsep Desa Wisata yang disuguhkan. Berbagai lokasi Desa Wisata sudah aku kunjungi dan Desa Wisata Pujong tersebut kuacungi dua jempol karena dikelola dengan sangat baik. Bahkan cukup profesional meskipun masih dalam tahap pembangunan dan tempat tersebut masih tergolong baru sebagai destinasi wisata Malang dan destinasi wisata Batu.

Pagi itu mendung pekat dan akhirnya hujan mengguyur deras tepat ketika kami hampir sampai di lokasi wisata. Karena tak mau menunggu hujan terlalu lama, kami yang tak membawa jas hujan langsung membeli di warung terdekat. Perjalanan pun kami lanjutkan dan memakan waktu kurang lebih satu jam setengah ditempuh dari Kota Malang. Sampai dilokasi pun cuaca masih kurang bersahabat. Hujan rintik masih turun dan kondisi jalan disana becek. Aku dan temen-temen yang waktu itu memakai sepatu akhirnya memilih nyeker. Kamipun setelah sampai di lokasi malah tidak membuka jas hujan terlebih dahulu. Jadi bisa dipastikan aku dan kawan-kawanku menjadi pusat perhatian waktu itu. Namun kami sih cuek-cuek saja. Bodo amat lah, kan aku nggak kenal.

Meskipun hujan, tapi nyatanya tak menyurutkan pengunjung untuk datang. Buktinya waktu itu suasana di Café Sawah cukup rame. Tempat parkir penuh hingga saung-saung untuk makan para pengunjung juga penuh. Kebanyakan orang yang berkunjung kesana adalah rombongan keluarga dan rekan kerja. Tempat tersebut memang cocok untuk berkumpul santai sambil menyantap makanan. Setelah cukup lama mencari saung yang kosong akhirnya kami mendapatkan tempat di saung A5. Kamipun duduk dan beristirahat sejenak dan aku langsung menuju warung makan untuk memesan makanan.

Sebelumnya aku bertanya kepada pelayannya tentang makanan yang paling recommended disana. Pelayan yang berbaju rapi murah senyum itu menyarankanku untuk mencoba Nasi Goreng X. Akupun memesan sesuai dengan saran masnya dan memesan susu murni. Temanku memilih menu yang berbeda, ada yang pesan Mie kuah, Nasi Goreng Y dan aneka minuman lainnya. Setelah menu yang dipesan tiba kami yang belum sarapan sejak berangkat dari Malang akhirnya langsung tak sabar untuk menyantapnya. Namun aku kecewa dengan menu Nasi Goreng yang kupesan. Ternyata rasanya tak sesuai dengan ekspektasiku. Awalnya kukira Nasi Gorengnya bakal dimasak dengan bumbu dapur yang sedap. Tapi setelah kucoba sesendok ternyata rasanya malah seperti Nasi Goreng yang dimasak pake bumbu instan. Benar-benar gak cocok di lidahku. Apalagi level pedesnya pun kurang banget. Temenku yang minta Nasi Goreng super pedas ternyata hanya diberi tambahan cabe rawit sendiri. Jadi waktu makan nasi goreng jika pengen tambah pedas harus makan cabe rawit satu per satu.



Menu makanan yang menurutku cukup enak malah Mie kuahnya. Aku sempat mencoba mie nya yang beda dengan mie kuah kebanyakan. Jadi mie yang dihidangkan punya tekstur yang tipis dan kenyal. Kuah mienya mantap karena  racikan bumbunya pas sekali. Sayangnya, lagi-lagi masih kurang pedas di lidahku. Mungkin bagi orang lain akan terasa pas. Kalo aku sih lebih prefer ke mie kuahnya daripada menu nasi goreng yang kata mas nya recommended tapi ternyata bikin kecewa. Untuk minumannya aku puas dengan Susu murni yang enak dan porsinya pun juga pas. Harganya pun standar bahkan tergolong murah. Selain itu minuman jahenya juga nendang. Jika pengen yang hangat-hangat aku bakal rekomendasiin jahe panasnya.

Setelah makanan dan minuman habis kita santap, kamipun bersantai sejenak di saung dan mengobrol segala hal. Aku duduk-duduk di saung sambil asyik menikmati pemandangan pegunungan di kejauhan. Suasana setelah hujan malah membuat tempat tersebut tampak semakin syahdu karena kabut-kabut tipis yang menyelimuti. Ketika yang lain asyik mengobrol dan enggan buat turun serta foto-foto, akupun jalan-jalan sendiri mencari spot indah untuk diabadikan. Setelah mendapatkan koleksi foto dan video yang cukup akhirnya aku kembali ke saung dan teman-temanku sudah berniat untuk pulang.



Secara keseluruhan aku suka tempat ini dan gak nyesel udah main kesini. Hal yang paling aku suka banget yaitu konsep pengembangannya yang menurutku oke untuk ukuran Desa Wisata. Mereka mengembangkan Desa Wisata dengan profesional. Bahkan pelayan-pelayan yang ada disana memakai seragam dan berpenampilan rapi. Selain itu fasilitasnya pun lengkap seperti Parkir luas, tersedia mushola, toilet hingga banyak pilihan warung makan. Tapi yang menurutku agar kurang yaitu makanannya. Jika memang mereka ingin mengunggulkan Café Sawah sebagai icon Desa Wisata Pujon, harusnya makanan yang ditawarkan lebih lezat atau paling tidak ada makanan khas dari tempat tersebut sehingga membuat pengunjung merasa harus kesana untuk bisa menikmati makanan tersebut. Logikanya gini, kalau mau makan Nasi Goreng atau Mie pun bisa dimanapun, jadi ngapain jauh-jauh ke Café Sawah Cuma makan mie atau Nasi Goreng yang rasanya biasa aja. Tapi jika Café Sawah nantinya punya makanan khas yang benar-benar lezat maka bakal menjadi nilai jual lebih.


Kalau kamu berencana untuk kesana sebaiknya sih pesan minuman dan snack aja. Jamur crispinya enak banget dan porsinya banyak bisa buat rame-rame. Tapi untuk makanan beratnya mending nyobain makanan di warung lain yang ada disana. Jangan lupa waktu membeli makanan disana kamu bisa menukarkan kupon yang diperoleh waktu pertama kali masuk Desa Wisata Pujon untuk mendapatkan potongan harga. Lumayan lah bisa menghemat 5000 rupiah untuk satu tiket yang ditukarkan.

Jadi jika pengen liburan hemat ala aku waktu main ke Kota Malang dan perut tetep kenyang maka langsung agendain aja untuk ke Desa Wisata Pujon. Kamu bisa menikmati sajian kuliner dengan harga standar namun dengan latar belakang pemandangan alam yang menyejukkan. Perut kenyang, hati tenang, kantong aman.





Terimakasih Dinok, Viqy, Feby, Digna, dan Happy yang udah nganterin jalan-jalan dan menyambutku dengan hangat selama disana serta mendengarkan segala curhatanku. Kalian membantuku menghempaskan kenangan dengan sang mantan dan menerima semua ini dengan lapang. Finally I can recharge my body and soul.





Buat para mahasiswa pasti istilah makrab sudah nggak asing lagi. Makrab atau malam keakraban biasanya diselenggarakan sebagai tempat untuk saling mengakrabkan diri satu sama lain. Kalau di lingkungan kampus biasanya makrab diselenggarakan oleh berbagai macam organisasi internal maupun eksternal kampus dan dari momen itulah para anggota yang baru saja bergabung bisa mengakrabkan diri dengan para anggota yang sudah lebih dahulu bergabung melalui agenda makrab. Intinya secara simpel, makrab itu ya cara buat Pedekate antara senior dengan juniornya atau mahasiswa lama dengan mahasiswa baru atau antara anggota lama dengan anggota baru.

Di Jogja sendiri biasanya ada tempat-tempat khusus yang menjadi favorit para penyelenggara makrab untuk dijadikan sebagai tempat makrab. Tempat-tempat tersebut diantaranya yaitu wisma atau villa di daerah Kaliurang, penginapan atau camping area di sekitar Pantai Selatan, hingga di daerah Turi yang banyak sekali terdapat Bumi Perkemahan. Dari ketiga daerah tersebut, aku sendiri paling suka dengan daerah Turi. Kenapa? Karena jika dibandingkan dengan daerah lainnya, menurutku makrab di Turi itu lebih nyaman, aman, alami, tapi juga asyik.

Menurut pengalamanku dulu waktu makrab di daerah Pantai Selatan, tepatnya di Pantai Goa Cemara, disana fasilitasnya kurang oke. Jadi waktu itu kami menyewa sebuah penginapan di dekat pantai. Daerah pantai selatan memang biasanya tidak ramai digunakan untuk makrab dengan model sewa penginapan. Alhasil waktu makrab disanapun aku dan temen-temen mendapatkan tempat bermalam yang kurang nyaman. Pengalaman itu membuat kami nggak mau lagi untuk mengadakan makrab di daerah pantai. Memang daerah pantai selatan kurang memfasilitasi para pengunjung yang datang kesana dengan tujuan makrab. Jadi ya semuanya serba alakadarnya. Mulai dari kamar mandi yang seadanya, tempat buat bermalam yang seadanya, hingga fasilitas penunjang seperti mushola pun juga seadanya. Dan yang membuat suasana tambah kurang menyenangkan adalah bau ikan dimana-mana hingga angin laut yang kencang banget waktu malam hari.

Berhubung pernah punya pengalaman kurang mengenakkan ketika makrab di Pantai Selatan. Lalu saat ada agenda makrab selanjutnya kami memutuskan buat makrab di Kaliurang. Di Kaliurang banyak sekali penginapan mulai dari yang mewah, besar, hingga penginapan yang standar dengan harga yang miring. Kami akhirnya menyewa penginapan yang dapat menampung peserta makrab kurang lebih  60an orang. Asyiknya makrab disana itu tempatnya bersih, udara sejuk, dan bisa pesen makan catering dari sananya. Jadi panitia cuma modal nyiapin acara-acara aja buat menyemarakkan kegiatan makrab yang diadakan. Soal urusan perut udah tinggal terima jadinya aja. Tapi yang kurang asyik disana sebenernya yaitu lingkungannya yang kurang alami kalo menurutku. Memang Kaliurang lokasinya dekat dengan kawasan wisata merapi. Tapi kalau acara makrab yang rombongannya banyak pastinya kegiatan yang memungkinkan ya Cuma di area penginapan aja. Jadi waktu makrab disana malah kurang berasa suasana alaminya karena kegiatan cuma diadakan di area penginapan. Malahan kataku Cuma pindah makan dan tidur doing karena peserta makrab pun waktu itu nggak bisa terlalu banyak menikmati alam sekitar.


Nah kalau emang pengennya makrab di tempat yang alami tapi nggak perlu capek-capek ngurusin ini itu, ada satu kawasan yang cocok banget buat makrab bareng temen-temen. Kawasan tersebut yang cocok digunakan buat acara makrab yaitu di Desa Wisata Garongan. Disana ada salah satu Bumi Perkemahan yang namanya Bumi Perkemahan Jaka Garong. Pengelolanya warga setempat yang tahu banget karakteristik wilayah tersebut. Enaknya makrab disana selain karena tempatnya alami, kita juga nggak perlu pusing dengan fasilitas yang ada disana. Jangan dibayangin kalau kemah atau camping itu mesti harus susah-susah. Salah banget. Karena disana semua sudah tersedia lengkap dan kita tinggal terima bersihnya aja kalo memang males ribet.


Soal fasilitas yang ada disana cukup lengkap banget karena ada toilet dengan jumlah banyak. Bahkan klosetnya pun dibuat duduk dan jongkok. Sangat pengertian banget kan pengelola disana sampai memperhatikan toilet buat pengunjung yang datang. Fasilitas lainnya yaitu ada gazebo yang bisa digunakan untuk sekedar santai atau tempat rapat para peserta makrab, ada pendopo yang luas, hingga ada halaman yang bisa digunakan sebagai acara pembukaan, upacara, atau pentas seni. Pokoknya Bumi Perkemahan Jaka Garong sudah didesain sebagai tempat yang ramah untuk digunakan sebagai tempat makrab, kemah, atau sekedar camping cantik bersama geng mu. Selain fasilitasnya yang lengkap, jika kita makrab disana nggak usah pusing soal konsumsi karena kita bisa memesan langsung makanan yang siap disediakan oleh pihak Bumi Perkemahan Jaka Garong untuk kebutuhan makan selama makrab. Tapi jika kamu dan rombongan menyiapkan budget yang terbatas maka untuk urusan perut kamu dan teman-teman bisa masak sendiri di dapur umum yang juga disediakan disana. Pasti makin seru kan makrabnya kalo bisa masak bareng-bareng gitu.



Pengalaman makrab seru yang bisa kita dapatkan disana nggak Cuma itu saja. Disana ada kawasan outbound yang bisa kamu gunakan untuk acara game seru bersama teman-teman. Jika misal dalam satu kepanitiaan nggak ada yang bisa menghandle acara outbound yang pasti butuh konsep dan cara khusus biar acaranya seru ,maka kamu bisa memanfaatkan jasa pemandu outbound dari orang-orang setempat yang sudah ahli dan berpengalaman. Dengan begitu acara outbound bakalan lebih seru dan nggak garing. Dan nilai plus lagi jika makrab di sini yaitu lokasi perkemahan yang dekat dengan Kali Sempor. Kalo kamu bakal mengadakan makrab disana jangan lupa untuk tracking Kali Sempor yang masih alami dan banyak bebatuannya. Itu bakalan jadi pengalaman makrab yang menarik, berkesan, dan nggak biasa.



Kalau kamu berniat buat makrab disana mending langsung survey ke lokasinya sekalian menentukan rencana tanggal berapa mau makrab disana. Biasanya pada bulan-bulan tertentu, orang-orang sudah banyak banget yang mem-booking Bumi Perkemahan Jaka Garong untuk digunakan sebagai tempat makrab, camping, acara outbong, maupun acara outdoor lainnya. Jadi daripada nanti kamu dan teman-teman nggak bisa makrab di waktu yang sudah ditentukan, mending survey langsung kesana jauh-jauh hari sebelumnya. Nanti kamu akan dikasih tahu paket-paket harga yang bisa dipilih sesuai dengan budget yang sudah kamu anggarkan.


For more info tentang Desa Wisata Garongan atau Bumi Perkemahan Jaka Garong ini, kamu bisa nanya-nanya ke :


Mas Yanu : +62 856-4753-7788
Atau bisa kepoin tempatnya di www.desawisatagarongan.com dan instagramnya di @jakagarong

Air terjunnya yang mini


Pariwisata di Gunung Kidul dari tahun ke tahun semakin menggeliat. Banyak tempat wisata baru yang dibuka untuk umum dan mulai digarap dengan serius. Salah satu tempat wisata yang baru dibuka adalah Air Terjun Kedung Kandang. Letaknya tak jauh dari lokasi desa wisata Nglanggeran. Aku bersama teman memutuskan kesana setelah melihat postingan foto orang-orang di instagram yang terlihat cantik. Sebenarnya aku sudah menduga jika nanti saat kesana akan mendapatkan view yang berbeda dari foto-foto yang diupload di instagram. Tapi karena berhubung aku tau ini tempat wisata baru dan pastinya masih sepi, akhirnya aku memutuskan untuk kesana. Menemukan lokasi wisata Kedung Kandang tidaklah sulit, di GPS sudah ada lokasi tepat air terjun Kedung Kandang. Jika sudah memasuki kawasan Desa Wisata Nglanggeran nantinya juga banyak papan petunjuk yang mengarahkan menuju lokasi. Untuk orang dari luar kota yang ingin kesana tak akan sulit untuk menemukannya. 
 
Tiket masuk menuju lokasi 7000 rupiah per orang dan tarif parkit motor 2000 rupiah. Menurutku itu harga yang agak mahal mengingat Kedung Kandang masih termasuk wisata yang baru dibuka, but that’s ok untuk sekedar membantu mengembangkan wisata disana. Tempat wisata tersebut memang masih benar-benar baru sepertinya, terlihat waktu aku kesana sedang ada pengerjaan jalan dan sejumlah alat berat. Memang masyarakat desa wisata Nglanggeran benar-benar serius dalam mengembangkan potensi wisata di daerah mereka. Fasilitas yang ada disana baru sekedar kamar mandi dan gazebo-gazebo. Belum ada rumah makan yang buka. Sepanjang perjalanan aku hanya mendapati satu warung yang menjual minuman dan makanan ringan.

Pemandangan sekitar Gazebo

Hal yang paling tak terduga dari kunjunganku ke Kedung Kandang bersama teman yang datang dari Malang dan Semarang adalah kami harus berjalan setidaknya 800 meter dari tempat parkir motor. Awalnya kami sempat syok, karena energi kami sepertinya sudah berkurang karena baru saja melalui tanjakan-tanjakan tinggi sepanjang perjalanan dari Jogja ke Gunung Kidul. Namun karena sudah terlanjur berencana kesana dan sayang sekali sudah sampai lokasi, akhirnya kami memilih untuk tetap melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan yang katanya mencapai 800 meter menuju air terjun Kedung Kandang tersebut kami melalui sawah-sawahan berbentuk terasering, pepohonan yang rapat, dan vegetasi tumbuhan yang entah apa namanya. Di kejauhan terhampar wilayah Gunung Kidul lainnya yang tertutup pepohonan dan juga bukit-bukit. Setelah menemukan gazebo pertama, akhirnya kami istirahat dan menghabiskan waktu untuk mengenang masa-masa SMA saat aku dan teman-teman bersama. Asyiknya pergi ke tempat wisata baru yang masih sepi pengunjungnya adalah kita mendapatkan kebebasan untuk melakukan apapun. Seperti halnya ketika bersantai di gazebo, kami bebas berlama-lama tanpa ada yang mengganggu. Berbeda ketika pergi ke Mangunan yang saat ini ramai dengan wisatawan, pasti hanya sekedar santai di gazebo dan mengobrol bersama teman pun tak nyaman karena terlalu ramai oleh pengunjung. 

Keunikan air terjun Kedung Kandang karena ceruknya

Setelah melepas kepenatan sesaat, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuruni bukit. Jalanan masih sempit dan mengerikan karena jika salah langkah bisa tergelincir. Tak lama setelah melalui jalan menurun, Kami menemukan gazebo lagi yang terlihat kurang terurus. Kami terus berjalan hingga melewati sungai kecil yang airnya sedikit. Tak lama setelah menyusuri sungai itu terdapat air terjun bertingkat yang memilki banyak cekungan-cekungan. Akupun tidak tau bagaimana cekungan-cekungan tersebut dapat terbentuk. Dari tingkatan air terjun satu ke tingkatan lainnya kami menaiki tali-talian untuk memanjat. Sayangnya airnya tidak cukup deras mengingat saat ini masih musim kemarau, jadi air terjunnya pun tidak terlalu deras debitnya. Tak lupa kami mengabadikan momen-momen dibawah air terjun sebagai kenang-kenangan. Setelah itu kami bergegas naik keatas bukit lagi karena tidak tahan dengan teriknya mentari. 

 
Semangat Naik Turun bukit



Dalam perjalanan kembali ke atas bukit untuk menuju starting point kami bertemu dengan wisatawan mancanegara. Mereka terlihat antusias sekali menikmati perjalanan menuju air terjun, yang membuat kami merasa sangat kelelahan. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan dan melewati warung yang menjual minuman dan makanan ringan. Meskipun aku sendiri sangat lapar, kami tidak mampir kesana karena tidak menjual makanan yang mengenyangkan. Perjalanan kembali ke tempat awal menjadi semakin berat ketika perut ini semakin memberontak minta diisi. Kami berusaha berjalan lebih cepat melewati tebing-tebing mengagumkan sembari sejenak menikmatinya dan melupakan segala kelelahan. Setelah sampai di tempat parkir yang menjadi titik awal dan akhir dari perjalanan kami, kami bergegas untuk pulang dan mencari warung makan terdekat. Akhirnya Kami tutup perjalanan melelahkan hari itu dengan menikmati soto gerabah di salah satu warung makan di kawasan Bukit Bintang. Selain perut kami yang dimanjakan oleh nikmatnya soto gerabah, mata kami juga dimanjakan dengan pemandangan indah Kota Yogyakarta dari atas. Tapi aku sepertinya tak akan mau kesana lagi. Delapan ratus meter masih terasa melelahkan bagi kaki yang bahkan sudah pernah menginjak Merapi, Merbabu, Lawu dan tempat lain yang lebih jauh. Tapi aku yakin, kedepannya Kedung Kandang juga akan berbenah menjadi wisata yang fasilitasnya lengkap dan semakin banyak wisatawan yang datang kesana.