Jika kamu ingin belajar snorkling, Umbul Ponggoklah tempatnya. Disana kamu bisa berenang ditemani ikan-ikan air tawar yang cantik, pasti berasa seperti snorkling beneran tanpa takut terbawa ombak.



Belakangan ini nama Umbul Ponggok tentu sudah tidak asing lagi bagi para wisatawan. Tempat wisata air ini terletak di Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah. Dari Yogyakarta bisa ditempuh kurang lebih 1 jam perjalanan menggunakan kendaraan pribadi. Umbul Ponggok buka setiap hari mulai pukul 07.00 – 17.00 WIB. Wisata tirta ini berhasil membuat banyak pengunjung datang kesana karena keunikan kolamnya yang berbeda dari kolam renang pada umumnya. Keunikan dari tempat ini karena kolam renangnya bersumber dari mata air alami yang sudah ada sejak zaman Belanda. Menariknya lagi, kolam yang berukuran 50 x 25 meter dengan kedalamanan rata-rata 1,5 hingga 3 meter ini memiliki berbagai jenis ikan air tawar yang berwarna-warni didalamnya. tidak seperti kolam renang lainnya yang berkeramik, di kolam ini sengaja dibuat kesan alami sehingga dasar kolam pun tidak berkeramik. Jadi bisa dibayangkan sendiri bagaimana asyiknya berenang di kolam renang yang airnya segar, tidak berkaporit, dan ditemani ikan air tawar yang berwarna-warni.

Ikan Air Tawar yang berwarna-warni
Harga Murah, Fasilitas Tidak Murahan
Jika kita bandingkan harga tiket masuk wisata tirta Umbul Ponggol dengan harga tiket masuk wisata kolam renang yang ada di kota-kota besar, pastinya sangat berbeda jauh. Harga tiket masuk yang ditawarkan untuk ke tempat wisata tirta ini hanya sebesar 8000 rupiah. Tetapi jika ingin sekaligus menyewa perlengkapan lengkap seperti pelampung dan snorkling, pengunjung hanya membayar 20ribu rupiah. Harga ini termasuk murah, apalagi ditunjang dengan fasilitas yang sangat memadai seperti banyaknya kamar mandi/kamar mandi yang bersih, warung makan, tempat duduk, hingga fasilitas persewaan alat menyelam yang lengkap. Tidak heran banyak orang yang dari luar kota sengaja kesini hanya untuk mengunjungi wisata air Umbul Ponggok yang semakin terkenal itu. Pengunjung dimudahkan dengan semua fasilitas yang ada. Jadi kesana tinggal bawa duit dan kita sudah bisa belajar snorkling sepuasnya.

Spot Idaman Foto Underwater

Seorang teman yang berhasil mendapat foto underwater yang bagus

Banyak para fotografer maupun pengunjung yang sengaja datang kesini untuk memperoleh foto underwater yang cantik. Para pengelola pun memfasilitasi keinginan pengunjung dengan menyewakan berbagai alat yang digunakan untuk menunjang foto underwater. Seperti penyewaan kamera underwater yang diberi harga 100ribu per jamnya. Bagi yang memiliki smartphone berkamera dengan  resolusi tinggi, bisa juga untuk membeli casing tahan air seharga 20ribu rupiah. Jika untuk keperluan pemotretan yang lebih profesional, disana menyewakan berbagai properti yang menunjang fotografi underwater.
Jika ingin mendapatkan hasil foto underwater yang menarik, datanglah ketika pagi hari (pukul 07.00-09.00) dan hindari hari libur atau weekend karena bisa dipastikan tempat it akan full oleh pengunjung. Selain itu carilah spot yang banyak ikan berwarna-warni, sehngga ketika kita befoto didalam air, ikan warna-warni tersebut semakin mempercantik frame foto underwater kita. Setelah itu jangan menyerah untuk terus mencoba, agar hasil foto yang diinginkan maksimal.

Belajar Snorkling
 
Bersiap snorkling dengan peralatan lengkap

Kolam ini memiliki kedalaman sekitar 1,5-3 meter sehingga umumnya pengunjung yang tidak terlalu tinggi tidak bisa menapaki dasar kolam. Untuk itu perlu pelampung jika ingin tetap aman berenang di kolam ini. Namun bagi yang sudah bisa mahir berenang dan tidak takut kedalaman, maka bisa mencoba untuk menikmati keindahan warna-warni ikan air tawar yang ada disana. Untuk bisa snorkling dan menikmati keindahan ikan, pengunjung bisa menyewa peralatan snorkling yang tarifnya cukup murah. Tanpa menggunakan peralatan snorkling, kita tidak bisa melihat keindahan ikan yang berwarna-warni. Sempat saya mencopot peralatan snorkling karena saya tidak terlalu bisa memakainya, namun ternyata dengan mata telanjang saja saya tidak bisa melihat keindahan ikan-ikan dengan jelas.
Pada mulanya, kukira ber-snorkling itu mudah. Kita tinggal memakai alatnya kemudian tinggal nyebur dan berenang didalam air. Namun ternyata memakai peralatan snorkling didalam air tidak semudah yang saya bayangkan. Mungkin karena tidak terbiasa menyelam didalam air menggunakan alat snorkling jadi saya merasa kesulitan. Kadangkala air malah masuk lewat selang udara, atau bahkan kacamata kemasukan air sehingga saya sampai gelagepan. Namun saya tidak berhenti untuk mencoba. Dan pada akhirnya saya menyerah karena badan kedinginan dan tubuh sudah kaku ketika digerakkan dalam air. Namun karena itulah saya bertekad untuk kesana lagi. Mungkin di tempat yang sama, atau bisa jadi dikolam lain yang ada di Klaten, kita tunggu saja waktunya tiba.

Untuk kalian yang ingin ber-snorkling di lautan lepas dengan air yang berombak, coba dulu untuk belajar snorkling di Umbul Ponggok ini. Jika sudah mahir memakai alatnya, baru deh langsung terjun ke lautan lepas seperti di Kepulauan Seribu, Karimunjawa, atau bahkan ke Raja Ampat.




Masjid Menara Kudus Bentuk Akulturasi Budaya Hindu-Islam
Dulu  sebelum Agama Islam disebarkan oleh para Wali di bumi Nusantara, agama yang lebih dulu menjadi kepercayaan masyarakat yang hidup di Indonesia (Nusantara) adalah agama Hindu dan Budha. Kemudian para Wali menyebarkan Agama Islam keseluruh pelosok Nusantara dengan cara damai dan dengan proses akulturasi dan asimilasi budaya masyarakat. Cara berdakwah yang damai itulah yang akhirnya membuat Islam dapat diterima oleh masyarakat.


Proses asimilasi dan akulturasi budaya yang dilakukan oleh para wali dalam menyebarkan ajaran Agama Islam dimasukkan kedalam berbagai media, mulai dari kesenian, tradisi, hingga arsitektur. Sunan Kudus melakukan akulturasi budaya dalam pembuatan bangunan Masjid Menara Kudus (disebut juga dengan Masjid Al-Aqsa dan Masjid Al Manar). Masjid Menara Kudus adalah sebuah mesjid yang dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 1549 Masehi atau tahun 956 Hijriah dengan menggunakan batu Baitul Maqdis dari Palestina sebagai batu pertama. Masjid Menara Kudus ini terletak di desa Kauman, kecamatan Kota, kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Masjid yang hingga kini masih berdiri dengan gagahnya tersebut memiliki menara yang gaya arsitekturnya seperti candi-candi kerajaan Hindu-Budha. Hal inilah yang menjadikan Masjid Menara Kudus sangat istimewa dan berbeda dengan masjid-masjid lainnya. 

Keunikan Arsitektur Menara Kudus
Menara Kudus memiliki ketinggian sekitar 18 meter dengan bagian dasar berukuran 10 x 10 m. Di sekeliling bangunan dihias dengan piring-piring bergambar yang semuanya berjumlah 32 buah. Dua puluh buah di antaranya berwarna biru dengan berlukiskan masjid manusia dengan unta dan pohon kurma. Sementara 12 buah lainnya berwarna merah putih berlukiskan kembang.

Masjid Menara Kudus tersebut menjadi ikon Kota Kudus sekaligus menjadi tempat yang bersejarah. Di belakang masjid terdapat kompleks makam. Mulai dari makam Sunan Kudus dan Para ahli warisnya, tokoh lain seperti Panembahan Palembang, Pangeran Pedamaran, Panembahan Condro, dan lain-lain. Setiap harinya banyak sekali masyarakat yang berasal dari berbagai macam daerah datang kesana untuk berziarah ke Makam Sunan Kudus maupun Makam para Wali lainnya. Jika dibandingkan dengan Makam Wali yang ada di daerah lainnya, Makam Sunan Kudus dan kompleks Masjid Menara Kudus lebih terawat dan terpelihara dengan baik. Di daerah lain, seringkali kompleks Makam Wali kurang terurus sehingga kebersihan dan keamanannya kurang diperhatikan. 

Kompleks Makam Wali dan Ahli Warisnya
Ketika kita akan memasuki makam Sunan Kudus, kita akan melihat pos penjagaan yang disana terpampang LCD rekaman CCTV yang terpasang di setiap sudut makam. Kemudian di kompleks itu juga terdapat pendopo-pendopo yang bisa digunakan untuk duduk-duduk para peziarah. Kemudian ketika memasuki Makam Sunan Kudus pengunjung harus melepaskan alas kakinya. Didalam makam, pengunjung yang ingin membaca Al-Qur’an maupun tahlil sudah disediakan Al-Qur’an dan bacaan Tahlil yang tertata rapi di dalam rak. Disana juga terdapat beberapa buah kipas angin yang terpasang disetiap sudutnya. Sehingga peziarah tidak merasa kepanasan meskipun banyak peziarah yang ada dalam ruangan itu.

Suasana dan Arsitektur di dalam Masjid


Masjid Menara Kudus yang berdiri saat ini sudah mengalami perubahan dan perluasan. Namun ketika kita masuk kedalamnya, kita masih bisa melihat sisa-sisa bangunan tua saat pertama kali Masjid Menara didirikan. Sisa bangunan tua itu tetap dipertahankan dan semakin memperindah bangunan masjid itu. Kemudian ketika masuk kedalam ruangan Masjid yang digunakan untuk sholat, terdapat karpet merah yang semakin membuat ruangan itu menjadi lebih mempesona. Benar-benar masjid yang indah dan penuh dengan sejarah!

Parkir Area yang Asri dan Tertata Rapi

Tempat Sampah yang unik


Pengelola Masjid Menara Kudus memang benar-benar mengelola Masjid Menara Kudus dengan sangat baik. Mulai dari perawatan kebersihan masjid yang terjaga dengan baik, hingga Kenyamanan dan keamanan pengunjung sangat diperhatikan oleh pengelola. Ketika disana, saya tak melihat sampah berserakan satupun. Saya melihat petugas kebersihan yang membersihkan halaman yang sudah cukup bersih. Dari segi keamanan, adanya CCTV memudahkan petugas untuk memantau keadaan didalam dan disekitar makam. Pengunjung yang berdesak-desakan lebih terjaga keamanannya dari para oknum nakal, karena semuanya bisa dipantau dari CCTV. Hal ini sebenarnya bisa ditiru oleh Makam Para Wali lainnya, yang biasanya kurang dipedulikan kebersihanan, kenyamanan dan keamanannnya. 
Story of Our Journey
Sebuah perjalanan yang tidak akan mungkin aku lupakan. bersama dengan seseorang yang membuatku sadar, betapa dia sangat memperhatikan diriku melalui cara-caranya yang terkadang tak bisa kumengerti.

Wonosobo, Mt. Prau 2.565 Mdpl




Disini adalah tempat dimana keinginanku empat tahun lalu bisa terwujudkan. Melalui jalan yang tak pernah kuduga-duga. Melalui rencana Tuhan yang tidak pernah aku rencanakan. Keinginan empat tahun yang lalu, yaitu mendaki bersama dirinya. Dia yang dulu membuatku tertarik untuk mencoba mendaki gunung. Konyol sebenarnya. Tapi entah mengapa, aku benar-benar ingin mendaki gunung bersamanya.

Hari itu aku tidak pernah menduga, bahwa dia akhirnya "bisa" mendaki bersama denganku. Kesebuah dataran tinggi di Wonosobo yang katanya merupakan tempat dewa bertahta, Dieng. Ini adalah kali pertama dalam sejarah hidupku mengendarai motor dengan jarak yang sangat sangat jauh, rutenya yaitu Jogja-Magelang-Temanggung-Wonosobo-Banjarnegara-Dieng kembali lagi Dieng-Banjarnegara-Kebumen-Purworejo-Kutoarjo-Wates-Yogyakarta. Sebuah perjalanan yang sangat-sangat melelahkan dan tidak ingin aku ulangi jika harus kesana menggunakan motor lagi :(

Pada awalnya rencana pergi ke Gunung Prau adalah Keinginanku. aku jauh-jauh hari telah menyiapkan uang untuk pergi kesana. Namun setelah diminggu tekahir keberangkatan, aku melihat bahwa dia tengah sibuk dengan revisi skripsinya. Kemudian aku mencoba untuk melupakan keinginanku itu. Melupakan semua rencana yang telah kupersiapkan dan berharap suatu saat nanti ada kesempatan lain untuk bisa mendaki bersamanya.

Di tengah sikap diamku, ternyata dia mengetahui bahwa aku menyimpan kekecewaan karena rencana ke Mt Prau yang aku buat tidak terealisasikan. Untuk itu aku memutuskan untuk mengobatinya dengan pulang ke kampung halaman, akan tetapi dia malah menahanku dan menyuruhku untuk tetap tinggal di Jogja. Hingga akhirnya dia memaksaku untuk berangkat ke Dieng hari itu juga. Dia mengatakan "Ayo pergi kesana sekarang, atau tidak ada kesempatan lagi nanti". Setelah kupertimbangkan kata-katanya itu yg cukup membuat pendirianku goyah,  akhirnya aku memberanikan diri mengambil kesempatan ini untuk mendaki ke Gunung Prau.

Kemudian aku menghubungi beberapa teman dan saudaraku untuk meminjam alat mendaki. Ini adalah perndakian tergila yang tidak terencanakan, batinku. Namun ketika tau bahwa aku dan dia sebentar lagi tidak satu kota, akhirnya aku nekat untuk mengambil keputusan ini.


Selepas maghrib dari Yogyakarta kami siap meluncur ke kota Wonosobo. Kupikir jarak Jogja-Wonosobo tidak terlalu lama, namun ternyata perjalanan ini sangat sangat melelahkan. Setelah sampai di Wonosobo, kami mengambil arah ke Banjarnegara untuk mampir ke basecamp temanku. Disana mereka telah menunggu dan menyiapkan peralatan mendaki yang diperlukan. Ternyata alamak, jarak antara Wonosobo ke Banjarnegara juga jauh banget. Sekitar 1 jam melawati hutan-hutan, jalanan yang tidak ada lampu penerangan, dan sangat sepi sekali. Akhirnya setelah sampai disana, tidak lama-lama kami segera berangkat ke Dieng.

Perjalanan ke Dieng mungkin adalah perjalanan terberat, karena suhu udara semakin dingin. Kami sampai di basecamp pendakian Gunung Prau sekitar jam 1 malam. Pendakian ini kurasa adalah pendakian dengan cuaca terdingin yang pernah kurasakan. Udara musim kemarau dimalam hari benar-benar membuat tubuhku mati rasa karena kedinginan. Kakiku bahkan sudah membeku. Kami istirahat di basecamp Patak Banteng sejenak dan melihat beberapa rombongan yang belum naik. Kamipun naik keatas bersamaan dengan rombongan itu. Kira-kira butuh 2 jam untuk mencapai puncak.

Trekking yang dilalui tidak terlalu sulit. Karena itu juga aku berani untuk mendaki gunung Prau meskipun persiapan kurang memadai. Trekking pertama pertama kami melalui perkebunan warga yang jalannya dibuat berundak-undak. Kemudian kami melalui jalanan yang sangat terjal dan menanjak dipenuhi dengan batu dan akar pohon yang licin. Harus ekstra hati-hati jika melalui jalanan seperti ini, apalagi di malam hati. Ketika hampir sampai ke puncak, kami melewati jalan yang cukup menanjak namun mulus dan dipenuhi rumput. 

Pada saat perjalanan kepuncak, setiap kali kami beristirahat mengatur napas kupandangi langit yang penuh dengan bintang-bintang. Langit malam itu sangat cerah karena tidak ada cahaya bulan. Saat itu aku teringat pada impianku dulu yang ingin pergi ke Gunung Prau. Rasanya seperti baru kemarin aku membuat wishlist itu dan hari ini tak menyangka dapat terwujudkan. 

Perjalanan yang katanya hanya 2 jam yang sebelumnya kuanggap enteng karena aku sudah terbiasa naik gunung ternyata membuatku kepayahan juga. Memang kita tidak boleh merasa hebat ketika berhadapan dengan alam. Ditengah jalan napasku terengah-engah, ditambah lagi kakiku yang beku rasanya sulit sekali untuk digerakkan. Beberapa kali aku istirahat dan merasa bahwa tubuhku ini semakin lama semakin loyo. Tidak sekuat saat dulu pertama kali aku mendaki gunung Merapi. Kini hanya dengan waktu tempuh 2 jam kepuncak aku pun sudah lemas. Namun rasanya sia-sia jika harus menyerah. Kupaksakan diriku untuk terus naik, dan dalam hati kubaca Surat-Surat Pendek. Itu adalah mantera yang kugunakan setiap kali melakukan pendakian. Setiap kali aku merasa lelah, lemas, dan tidak sanggup untuk berjalan lebih jauh lagi aku selalu membaca Surat-Surat Pendek. Setelah itu rasanya aku seperti mendapat kekuatan tambahan. Dan akhirnya seiring dengan bacaanku kala itu, langkah kakiku mulai ringan dan tak terasa kami telah mendekekati puncak.

Ramainya Gunung Prau
Didepan mataku sebuah pemandangan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ratusan tenda berjejeran dibukit itu. Inikah efek dari sebuah film, media massa, dan media sosial? Tanyaku pada diri sendiri. Orang-orang yang sebelumnya tidak tertarik dengan kegiatan menjelajah alam atau gunung kemudian berbondong-bondong untuk pergi kegunung. Ah rasanya kedamaian yang ingin aku dapatkan ketika berada di gunung seperti biasanya tidak bisa kudapatkan disini. Ketika naik gunung, biasanya aku menyukai ketenangan yang dihadirkan. Namun disini, Terlalu ramai. 


Sunrise gunung Prau yang selalu dinanti
Lalu setelah menemukan tempat yang sekiranya lapang dan muat untuk mendirikan tenda kami bergegas untuk mendirikan tenda. Udara dan angin diluar sudah teramat sangat dingin. Jaket 3 lapis yang kupakai pun tak mampu menghilangkan rasa dinginnya. Akhirnya selesai membuat tenda dengan sedikit bersusah payah, kami segera menghangatkan diri kedalam tenda. Sleeping bag adalah penghangat terbaik kala itu. Mampu menghangatkanku dan membuatku terlelap sebelum akhirnya dibangunkan oleh orang-orang yang berteriak-teriak waktu melihat sunrise. Pada awalnya aku enggan untuk bangun. Lebih memilih tidur dan berpelukan dengan sleeping bag. Namun rasanya sayang jika tidak mengabadikan momen legendaris di gunung Prau, Golden Sunrise. Dan TAARAA, setelah kubuka tenda, kami disambut oleh matahari yang masih enggan menampakkan diri. Cahanya membuatku mampu melihat pemandangan yang tadi malam tidak bisa kulihat. Sebuah pemandangan yang menakjubkan. Jejeran gunung terlihat angkuh menantang. Menunjukkan pesonannya kepada kami yang ada di gunung Prau. Satu dua kali Jepret kami mengambil foto. Namun aku tidak tahan dengan angin yang sangat kencang sekali. Akhirnya tidak lama setelah matahari benar-benar menunjukkan dirinya aku kembali kedalam tenda dan meneruskan tidurku yang tertunda.

Rebahan diatas ruput dan dikelilingi bunga Daisy yg cantik
Setelah tidur beberapa saat, dia mengajakku untuk berkeliling kebukit-bukit sekitar. Untuk mencari spot foto yang sekiranya bagus dan tidak banyak orang yang mengganggu. Kami melalui padang bunga Daisy yang cantik sekali. Dulu, aku hanya bisa melihat keindahan Daisy dari foto di Internet. Aku memang terobsesi untuk melihatnya langsung, dan hari itu aku bahkan bisa melihat keindahan bunga Daisy sepuasnya. 

Setelah itu kami meneruskan perjalanan kesebuah bukit yang berhadapan langsung dengan jajaran gunung. Kami berhenti disitu, duduk bersama diatas rerumputan dan merasakan sinar hangat mentari memberikan kehangatan. Satu Dua Tiga detik ternyata aku sudah tertidur. Aku memang masih ngantuk dan tidak tertahankan lagi. Lalu aku terbangun oleh suara orang-orang yang datang. Lalu kami memutuskan untuk kembali ketenda dan sebelum itu kami mengabadikan momen bersama.

Kebiasaan burukku. Mudah banget tidur dimanapun
Kami kembali ketenda dan bersiap untuk sarapan pagi. Minum kopi adalah hal yang paling menyenangkan jika dilakukan diatas gunung. Apalagi dengan hawa yang dingin pagi ini. Ketika kami mengeluarkan peralatan untuk memasak, kami baru tau kalau kami lupa membawa gas spirtus yang digunakan untuk menyalakan kompor. Akhirnya terpaksa kami meminta bantuan kepada tetangga depan camp untuk memanaskan air yang kami bahwa. Alhamdulillah masih bisa makan pop mie dan minum susu hangat. cukup untuk bekal tenaga ketika pulang nanti.

Setelah sarapan selesai, kami bersiap untuk pulang. Meskipun dalam hati aku ingin disana lebih lama. Ingin tiduran diatas bunga daisy lagi dan dimanjakan oleh kehangatan mentari, sambil melihat birunya langit yang menentramkan. Hal itulah yang selalu aku sukai ketika mendaki gunung. Momen yang tidak bisa kudapatkan di kota. Namun pulang adalah sebuah keharusan. 

Perjalanan turun ke Basecamp melihat pemandangan indah ini

Sewaktu turun aku mempercepat langkahku. Tubuhku sudah sangat lelah dan ingin segera tiba dirumah. Hingga akhirnya aku sempat terpeleset beberapa kali. Tapi dia malah menertawakanku. Ah dasar, nggak ada romantisnya ini orang, pikirku. Lalu aku semakin mempercepat langkahku dan berjalan didepannya. Dan pada akhirnya tenagaku serasa terkuras habis setelah menuruni pos kedua yang jalannya terjal bebatuan. Akupun mengambil langkah pelan dan tidak lagi berjalan secepat sebelumnya. Hingga tak terasa, kami sudah hampir sampai di basecamp. Siang itu basecamp dipenuhi dengan orang yang istirahat setelah naik gunung maupun sebelum mereka berangkat mendaki. Karena kaki dan badan sudah lemas, kuistirahatkan badan sejenak dengan menyenderkan tubuhku ketembok. Kulihat dia juga sudah sangat kelelahan. Tidak dapat kubayangkan bagaimana kondisinya saat itu. Harus mengendarai motor selama kurang lebih 6 jam. Dan nanti ketika pulang, dia juga harus mengendarai motor lagi untuk menuju Jogja. Lalu kubiarkan dia tidur dengan berbantalkan carrier yang dia bawa. 
Sebelum pulang kami mengecek kembali barang bawaan yang dibawa. Jangan sampai ada yang tertinggal. Setelah itu kami bersiap untuk meninggalkan basecamp. Ketika telah meninggalkan basecamp, dia mengajakku untuk mampir ke telaga warna. Ah, aku sudah capek, rasanya berat sekali kakiku untuk melangkah, batinku. Namun untuk menyenangkannya aku menyetujui ajakannya tersebut. Aku tahu bahwa sebentar lagi dia akan pulang ke Palembang. Dan karena itu, dia ingin menghabiskan saat-saat terakhirnya di Jawa dengan mengunjungi tempat-tempat wisata. 

Muka kelelahan tapi Bahagia. Di Telaga Warna

Untungnya jarak antara basecamp pendakian Prau dengan Telaga Warna tidak terlalu jauh. Tempatnya pun juga sejuk dan bagus untuk berfoto-foto. Sayangnya, saat itu aku tidak begitu berminat untuk foto banyak-banyak. Selain karena badan yang sudah lelah, juga karena bau belerang yang menyengat. Membuatku ingin cepat-cepat menjauh dari telaga itu. Setelah beberapa saat mengelilingi telaga warna, tak lama kami memutuskan untuk pulang.

Pulang, rasanya aku rindu tempat dimana aku seharusnya berada. Namun kejadian hari ini seperti mimpi bagiku. Tiba-tiba saja diajak mendaki, Tiba-tiba saja pergi ke Prau, Tiba-tiba saja keinginanku terwujud. Tiba-tiba saja bisa mendaki bersamanya setelah menanti bertahun-tahun. Hatiku diisi perasaan yang bercampur aduk, bahagia, senang, lelah, sedih, bingung. Terimakasih Tyo, telah membuat semua ini menjadi nyata. Hari itu aku merasa seperti berada di dunia dongeng. Dan sekarang aku tau, kesempatan itu tidak akan datang dua kali.



Untuk Dia yang selalu memarahiku ketika aku ragu, plin-plan, dan berubah-ubah pikiran. Dia yang selalu cuek dihadapanku. Dia yang menyayangiku dengan caranya sendiri. Terkadang aku berpikir, kenapa bisa dibalik sikap cuek dan marahmu tersimpan rasa sayangmu padaku? Hingga kamupun mau menghadapi hari-hari yang penuh kesulitan bersamaku.