Bukit Parangndog, different side of Pantai Selatan

diatas bukit paralayang


Long weekend telah tiba. Kota mana yang ingin kamu kunjungi selanjutnya?Jogja!!! Oke sebelum bersiap kesana ada reccomended place buat kalian yang ingin liburan ke Jogja, bisa masuk list Place wanted kalo sedang liburan ke Jogja.
Ketika ke pantai Parangtritis pasti kita akan melihat bukit yang menjulang tinggi di sebelah Timur pantai tersebut. Di bukit tersebut biasanya digunakan untuk kegiatan paralayang dan gantole. Dari bukit tersebut kita bisa melihat deretan pantai selatan dari ujung Timur hingga ujung Barat. Menariknya lagi dari sana juga terlihat hamparan samudra hindia yang seolah menyatu dengan awan. Selain itu dikawasan tersebut masih sangat natural. Tidak banyak terdapat rumah penduduk atau penginapan, bahkan warung-warung juga sedikit sekali jumlahnya. Ketika berada disana suasana pedesaan akan sangat terasa, karena banyak pepohonan dan tumbuhan liar.Tebing paralayang ini atau yang biasa disebut parangkusumo terbilang masih sepi dari pengunjung. Apalagi jika kesana pada waktu weekdays.


pemandangan disekitar bukit

Sayangnya untuk pergi kesana harus menggunakan kendaraan pribadi. Bisa dengan motor atau mobil. Lebih nyaman menggunakan mobil karena jalanan akan menanjak sewaktu naik ke atas bukit. Lokasinya pun tidak sulit, jika ingin kesana kita tinggal mengikuti jalan kearah pantai parangtritis. Dari arah lokasi loket pantai, lutus terus ke arah Pantai Parangtritis. Ketika hampir sampai di pantai parangtritis, nantinya akan terlihat tebing yang tinggi. Nah tinggal mengikuti jalan menanjak kearah tebing tersebut yang memasuki daerah Pangang, Gunung Kidul. Harap berhati-hati karena jalan kesana menanjak dan kurang bagus sehingga harus ekstra fokus ketika melewatinya. Ikuti jalanan menanjak tersebut hingga menemukan pertigaan, ambil ke arah kanan. Setelah itu tinggal lurus mengikutijalan yang menanjak hingga kita menemukan sebuah rumah dan sebuah camp disebelah kanan jalan. Dirumah itu kita bisa memarkirkan kendaraan motor maupun mobil untuk selanjutnya berjalan kaki ke atas bukit. Untuk ke atas bukit kita bisa berjalanan kaki dari jalan setapak yang berada tepat di samping rumah tadi. Tidak terlalu lama kok, jadi jangan takut kelelahan.

jalan menuju ke puncak bukit

Sesampainya disana, Anda akan disambut dengan pesona pantai-pantai selatan yang membentang. Waktu yang paling tepat wisata ke parangkusumo adalah ketika pagi hari sebelum matahari terlalu terik dan pada waktu sore hari ketika matahari akan kembali ke peraduannya. Tebing yang menghadap ke arah Barat tersebut sangat cocok digunakan untuk melihat sunset. Apalagi jika bersama teman-teman atau orang terkasih.
Persiapkan perlengkapan wisata sebelum pergi kesana, semacam tikar, makanan dan minuman. Hal itu adalah kebutuhan wajib karena diatas tebing nanti tidak ada penjual makanan. Jangan lupa membawa topi dan sunglassess karena ketika siang hari matahari akan terasa terik.



Disana pengunjung pun tidak dikenakan biaya apapun selain biaya parkir tadi. Lumayan lah buat referensi liburan hemat ketika pergi ke Jogja.  Tempat itu memang tidak dikelola dengan baik oleh pemerintah maupun masyarakat sekitar, sehingga wajar saja tidak ada fasilitas dan biaya retribusi ketika memasuki kawasan tersebut. Jika tidak puas hanya melihat keindahan pantai selatan dari atas bukit, bisa juga untuk mlipir sebentar ke pantai Parangtritis atau pantai Depok yang letaknya tidak terlalu jauh dari bukit parangkndog. Sepulangnya dari sana, jangan lupa untuk mengabadikan satu dua foto di gurun pasir parangkusumo yang seringkali digunakan untuk foto prewedding. Selamat Berlibur Ceria!

 



Di pantai utara Jawa tepatnya di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, terdapat wisata dan konservasi hutan mangrove. Meskipun kondisi ekowisata yang berkembang disana tidak sebagus dengan wisata hutan mangrove yang berada di Bali dan Surabaya, namun saya yakin jika tempat tersebut dikelola dengan serius oleh pemerintah pasti akan berkembang menjadi ekowisata yang menarik banyak wisatawan. Namun upaya pelestarian yang dilakukan oleh pemerintah juga harus didukung dengan kesadaran tinggi masyarakat sekitar akan pentingnya menjaga kelestarian hutan mangrove. 


Spesies Burung Bangau pada ekosistem hutan Mangrove


Dahulu di daerah konservasi hutan mangrove tersebut terdapat sebuah kampung kecil, namun kemudian kampung tersebut terkena abrasi air laut. Pemerintah lalu melakukan bedol desa dan memindahkan penduduk yang tinggal di sekitar area tersebut ke daerah lain. Namun saat ini disana masih terdapat beberapa kepala keluarga yang tetap memilih tinggal disana meskipun abrasi pantai membuat kerusakan pada rumah mereka. Ketika kesana, akan nampak bekas-bekas rumah yang sudah tidak ditinggali dan termakan oleh abrasi. Sekitar lima tahun yang lalu memang didaerah itu belum banyak ditumbuhi pohon bakau disekitar bibir pantai. Maka tidak heran jika abrasi pantai didaerah itu cukup memprihatinkan. Namun sekarang ini didaerah tersebut sudah dilakukan konservasi hutan mangrove. Disepanjang bibir pantai sudah banyak tumbuh pohon-pohon mangrove. Selain untuk mencegah abrasi, hutan mangrove juga memiliki peran sebagai ekosistem udang dan ikan-ikan. Bahkan juga sebagai ekosistem berbagai macam burung. Ketika mengunjungi konservasi hutan mangrove yang ada di Demak, banyak sekali terlihat burung bangau berwarna putih yang hidup bebas di hutan mangrove. Pengunjung dilarang untuk memburu dan menangkapnya. Ada sangsi tegas jika pengunjung melakukan hal tersebut. Sayangnya, kondisi konservasi hutan mangrove disana kurang terjaga kebersihannya. Banyak sekali sampah-sampah yang menyangkut di akar-akar pohon mangrove. Entah darimana asalnya sampah plastik yang mengotori pantai tersebut. Apakah sampah itu memang akibat ulah dari pengunjung yang membuang sampah sembarangan, atau malah jangan-jangan sampah tersebut berasal dari sungai kemudian terbawa arus hingga ke pantai. Sebagai warga asli desa sana, Saya memang mengetahui fakta bahwa masyarakat yang hidup didaerah itu “hobby” membuang sampah ke sungai atau laut. Sepertinya membuang sampah disungai memang sudah menjadi semacam hal yang wajar. Karena mereka tidak menemukan tempat lain untuk membuang sampah selain di kali. Seharusnya perlu dilakukan penyuluhan akan pentingnya kesadaran menjaga kebersihan pantai. Agar masyarakat juga sadar bahwa tindakan mereka membuang sampah ke kali adalah tindakan salah yang dapat membawa dampak negatif untuk lingkungan.



Seaindainya saja konservasi mangrove yang ada disana sama bagusnya dengan hutan mangrove yang ada di Bali ataupun Surabaya. Pastilah banyak wisatawan yang akan berkunjung dan hal itu dapat mendorong perekonomian warga disekitar sana menjadi lebih baik. Kebanyakan warga yang ada disana hanya memiliki mata pencaharian sebagai nelayan. Dan masyarakat yang berada disekitar pantai memiliki pekerjaan sampingan sebagai penjaga pantai, tukang parkir, hingga membuka warung makan yang menjual berbagai macam olahan mangrove seperti kripik daun mangrove, roti mangrove, dan cemilan dari biji mangrove. Umumnya ekonomi masyarakat disana memang berpenghasilan rendah. Karena uang yang diperoleh tiap hari juga tidak menentu, tergantung dari hasil melaut yang mereka dapatkan. Karena itu, banyak anak-anak disana yang tidak mendapatkan pendidikan dengan baik. Kebanyakan anak-anak disana hanya berpendidikan hingga tamat SMP/SMA. Selain itu mereka juga lebih suka ikut melaut ataupun bekerja sebagai buruh pabrik daripada harus bersekolah tinggi-tinggi. Karenanya, untuk memutus rantai kemiskinan yang ada disana dibutuhkan usaha keras. Mindset masyarakat disana harus diubah bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari dari kemiskinan.
Tidak banyak orang yang tahu keberadaan konservasi hutan mangrove di Demak. Karena lokasinya memang cukup terpencil dan jalan menuju kesana pun harus menggunakan sepeda motor atau kendaraan roda empat. Namun belakangan ini berkat social media media seperti instagram, banyak pengunjung yang datang kesana. Mereka umumnya hanya ingin berjalan-jalan kesana melihat hutan mangrove dan sekedar berfoto ria atau bahkan banyak yang menjadikan tempat wisata hutan mangrove sebagai lokasi pacaran. Padahal tempat konservasi hutan mangrove bisa dijadikan sebagai sarana wisata dan edukasi khususnya bagi para pelajar. Sehingga akan timbul kecintaan dengan alam dan semangat untuk melestarikan lingkungan. Untuk masuk kesanapun tidak mahal, pengunjung hanya dikenakan biaya parkir. Dan untuk masuk ke kawasan hutan mangrove, pengunjung tidak dikenakan biaya retribusi. Disana pengunjung dapat melihat pohon-pohon mangrove yang tumbuh dengan rapat, beton-beton pemecah ombak, dan juga disana terdapat makam Syekh Abdullah Mudzakir. Meskipun bangunan dan rumah yang ada disekitar bibir pantai mengalami kerusakan parah, namun berbeda dengan makam tersebut. Makam tersebut masih utuh dan berada ditengah laut. Untuk menuju kesana bisa melewati jembatan beton. Pada hari-hari besar agama Islam biasanya makam tersebut ramai dikunjungi orang-orang dari luar daerah. Ketika berkunjung kesana, jangan lupa mencicipi aneka cemilan dari olahan pohon mangrove. Dan yang ingin berkeliling pantai, bisa mencoba naik perahu nelayan. Biasanya mereka dengan senang akan mengantarkan pengunjung berkeliling pantai, tentunya dengan biaya yang telah disepakati. Perlu diingat, ketika disana pengunjung tidak boleh merusak pohon mangrove, memburu satwa yang ada disana, serta mengotori lingkungan. Untuk yang kesana berpasangan namun belum menikah, sebaiknya lebih menjaga sikap dan memperhatikan sopan santun. Penduduk setempat tidak segan-segan untuk memberikan teguran dan sangsi jika melihat pengunjung yang tidak mengindahkan peraturan dan tidak menjaga sopan santun.  Mari kita jaga bersama kekayaan alam Indonesia, inilah harta yang paling mahal harganya.