Buat kamu pecinta travelling ada website baru nih yang bisa menjadi tempat buatmu untuk mencari jasa guide namanya todego.com. Website atau bisa disebut juga marketplace ini merupakan tempat untuk menemukan jasa guide. Jadi disana kamu bisa menemukan guide yang dapat menemanimu untuk pergi travelling. Kehadiran website tersebut sangat membantu kita yang hobi jalan namun buta akan tempat yang kita tuju. Seringkali ketika aku pergi hiking ke gunung maupun wisata ketempat yang sedikit challenging ada rasa khawatir jika tersesat. Apalagi tersesat digunung pastinya sangat berbahaya karena belum tau rute jalan yang dipenuhi dengan hutan lebat. Dengan adanya Todego.com berwisata ke tempat menantang yang telah kurencanakan tidak perlu khawatir lagi karena akan ada guide yang menemani. Jika biasanya kita susah untuk mencari guide yang recommended lewat Todego.com kita bisa memilih sendiri guide yang akan kita ajak traveling. Selain bisa melihat profil mereka kita juga bisa melihat rating mereka atau track record mereka selama menjadi guide. Jadi traveling ke tempat baru manapun aku tak perlu khawatir lagi deh karena bisa langsung memilih guide di Todego.com


Selain cocok untuk traveling perseorangan kamu juga bisa mengajak guide untuk wisata rombongan. Malah sangat direkomendasikan untuk membawa serta guide ketika kamu wisata dalam jumlah orang yang cukup banyak. Karena dengan adanya guide para anggota dalam rombongan akan lebih terakomodir. Selain itu guide juga bisa membantu memberikan informasi kepada para anggota rombongan. Todego.com sangat membantu sekali untuk para pecinta traveling mendapatkan jasa guide. Apalagi untuk traveler perempuan seperti aku ini tak perlu khawatir lagi deh jika ingin bepergian sendiri ke tempat wisata baru. Jika tidak ada rombongan pun aku masih bisa traveling dengan aman karena ditemani guide dari Todego.com. Selain itu yang membuat menarik dari layanan guide Todego.com kita bisa meminta tambahan layanan kepada guide yang kita pilih. Layanan yang disediakan berupa konsumsi, mobil, penginapan, kamera hingga peralatan hiking dan lainnya. Dengan adanya layanan tersebut sangat membantu sekali ketika aku ingin pergi mendaki namun tidak memiliki peralatan hiking yang lengkap. Aku bisa langsung meminta guide pilihanku untuk menyediakannya. Selain tidak repot aku juga merasa terbantu. Guide di Todego.com tidak hanya menawarkan jasa pemandu wisata saja namun juga memenuhi kebutuhan kita lainnya ketika travelling. Selamat mencoba wisata ditemani dengan guide profesional ya travelers!

 

Jika kamu suka fotografi dan ingin hunting tempat foto baru di Jogja yang hits dan pemandangannya ciamik, maka kamu harus ke Candi Plaosan. Mengapa ke Candi Plaosan? Kenapa kok aku gak nyaranin ke candi lain saja seperti Candi Prambanan, Candi Ratu Boko, atau Candi Ijo yang sedang hits? Karena oh karena disana murah tiket masuknya, Cuma seikhlasnya saja. Bukan itu deh sebenarnya alasan aku merekomendasikan tempat ini. Candi Plaosan memang terkenal sebagai spot favorit fotografer sebagai lokasi hunting foto. Karena itulah aku merekomendasikannya. Candi ini bisa menjadi spot favorit karena fotografer bisa mendapatkan hasil foto perpaduan antara kemegahan bangunan sejarah zaman dahulu dipadukan dengan nuansa alam yang asri. Apalagi jika kamu sedang beruntung maka akan ada aktivitas warga yang sedang berkebun di area Candi Plaosan tersebut. Tentu saja itu akan semakin membuat komposisi fotomu semakin keren.

Candi plaosan terletak di tengah-tengah perkebunan warga, jadi waktu terbaik untuk datang kesana adalah pagi hari sebelum matahari muncul ke permukaan. Dengan begitu kamu akan mendapatkan pemandangan alam yang indah dan bisa mengabadikan aktivitas warga di sekitar Candi Plaosan. Tak perlu sungkan jika kamu ingin mengambil gambar aktivitas warga dari jarak dekat, mereka juga sudah terbiasa dengan hal itu. Namun alangkah baiknya kamu izin terlebih dahulu sebagai bentuk kesopanan. Mereka biasanya sangat welcome dengan pengunjung atau fotografer yang datang.

Aku tak akan bercerita banyak tentang Candi Plaosan. Karena menurutku tidak jauh berbeda dengan candi-candi lainnya. Yang membedakan tiap candi malah suasana yang ditwarkan. Maka dari itu kalau kamu datang ke Candi ini untuk melihat kemegahannya mungkin akan sedikit kecewa karena memang kalah besar dengan candi prambanan. Bahkan beberapa titik di lokasi Candi Plaosan ini masih dilakukan pemugaran.

Jika ingin menikmati suasana di desa sekitar, kamu bisa keliling dengan berjalan kaki menikmati udara pagi di area perkebunan. Atau bisa menggunakan sepeda onthel agar lebih menyenangkan. Jika belum puas hanya mengunjungi Candi Plaosan saja dan kamu ingin mengeksplore candi-candi lainnya maka disekitar sana terdapat banyak candi lainnya seperti candi sambisari, candi prambanan, candi mendut?, candi kalasan, dan lainnya.

 Buat kamu yang hobi foto atau memang seorang fotografer yang sedang mencari stok foto, maka aku sarankan untuk kesana pagi hari sebelum matahari tinggi. Atau ketika sore hari karena kamu akan mendapatkan foto sunset yang mengagumkan disana. Seperti foto di bawah ini. Selamat Mencoba ! :)

Sumber :http://kasatka.id/jalanjalan/pesona-candi-plaosan-di-timur-jogjakarta/



Diantara semua kabupaten yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta, Kulon Progolah daerah yang menurutku masih asing. Memang aku sendiri jarang sekali jalan-jalan ke Kulon Progo. Selain karena lebih jauh dari daerah lainnya, jalanan di Kulon Progo juga banyak tanjakan seram. Belum lagi masalah sinyal. Jika biasannya aku jalan ke Gunung Kidul masih bisa mendapatkan sinyal internet, di Kulon Progo biasannya agak susah bahkan gak ada.

Perjalananku kali ini adalah rencana dadakan yang bahkan aku gak mempersiapkan apapun. Diajak ke Waduk Kleco atau bisa juga disebut Waduk Mini maka pikiranku pun perjalanan kesana gak akan menyiksa dan jalannya pun gak akan susah. Karena biasanya waduk-waduk di tempat lain jalannya sudah bagus. Akupun mengira perjalanan kesana tak akan terlalu menyusahkan dan kupikir aku akan menikmati jalan-jalan cantikku setelah sekian lama aku tak pernah pergi plesiran. Bisa dibilang aku waktu itu salah kostum, dengan memakai sandal agak tinggi kupikir itu tak akan membuat masalah. Ya memang sih gak masalah, tapi sedikit menyusahkan. Bahkan beberapa kali aku diledek teman seperjalananku.

Perjalanan ke Kulon Progo memang sedikit membingungkan. Jika kamu gak tau rute tepat menuju tempat wisata yang ingin kamu tuju maka bisa jadi kamu akan kesasar hingga rute jalan yang lebih jauh lagi. Akupun kemarin juga begitu. Setelah percaya diri menuju arah yang benar ternyata kami harus memutar balik berkilo-kilo meter agar menuju lokasi wisata yang tepat. Beberapa kali aku menanyakan lokasi waduk mini kepada penduduk disana bahkan mereka tidak mengetahuinya. Dengan modal Tanya sana-sini dan nyasar berkali-kali akhirnya sampai juga ke Waduk Kleco atau Waduk Mini. Ternyata jalannya memang menanjak keatas sehingga membuatku kecapekan ketika menggunakan sandal yang agak berat tadi. Namun it’s Ok karena jalannya sudah bagus karena beraspal.



Jangan bayangkan waduk ini akan sebagus dengan waduk Sriten yang ada di Nglanggeran, Gunung Kidul. Jauh sekali jika membandingkan dengan Waduk Kleco dengan Waduk Sriten. Aku bahkan sedikit kecewa setelah sampai di tempat karena tidak sesuai dengan ekspekasiku. Apalagi setelah bersusah-susah menemukan jalan yang tepat dan mblusuk menuju waduk ini. Tapi aku selalu menikmati setiap perjalananku tidak peduli dengan rasa kecewa yang kudapatkan.

Jika memang kamu ingin menjelajah waduk ini maka datanglah pada waktu pagi hari atau fajar. Namun bisa aku pastikan kalau berangkat pagi-pagi kamu akan merinding dengan jalanan menuju kesana yang penuh dengan pepohonan lebat dan mungkin tidak ada penerangan jalan karena akupun tidak melihat adanya lampu di sepanjang jalan yang kulalui. Tapi asyiknya kalau kamu datang di pagi hari maka kamu bisa melihat matahari terbit membelah pegunungan menoreh yang masih asri. Apalagi jika kamu suka fotografi landscape, pemandangan bukit menoreh di pagi hari dengan kabut-kabut tipis akan membuat lukisan alam yang sangat indah. Jika memang terpaksa ke Waduk Kleco di siang hari seperti aku ini maka kamu bisa duduk-duduk manis di gazebo-gazebo sembari menikmati pemandangan bukit menoreh dan waduk mini yang ikannya masih keci-kecil. Sebenarnya disana juga ada flying fox yang lewat tepat di atas waduk. Namun ketika berbincang-bincang dengan penjaga disana, flying fox tersebut saat ini belum bisa digunakan. Wah sayang sekali yaa.

Landscape Bukit Menoreh dari Waduk


Ketika aku kesana tak ada pengunjung lain selain aku dan rombongan. Sebelum pulang kami bertanya-tanya pada pemuda setempat yang sedang berjaga di Waduk tersebut. Katanya memang sebenarnya Waduk Kleco tersebut awalnya memang bukan dibuka untuk tempat wisata melainkan hanya untuk irigasi kebun dan sawah yang ada di sekitar. Lambat laun ada inisiatif untuk membukanya menjadi tempat wisata. Tapi ternyata dapat dilihat saat ini, perkembangan Waduk Kleco sebagai destinasi wisata seperti jalan di tempat. Entah karena lokasinya yang terlalu terpencil atau mungkin kurangnya promosi kepada masyarakat luas.  Jika penduduk sekitar serius untuk membukanya menjadi destinasi wisata, mungkin promosi lebih gencar dapat dilakukan.

Satu hal yang perlu diperbaiki lagi, seharusnya harus diperbanyak papan petunjuk jalan yang menuju ke Waduk Kleco itu. Karena saat aku kesana susah sekali untuk menemukan lokasi tepat Waduk Kleco ini. Padahal aku sudah melewati jalan sebelum belokannya, eh malah kebablasan dan harus putar balik lagi karena tidak adanya papan petunjuk jalan.

Transportasi terbaik untuk ke Waduk Kleco ini adalah menggunakan motor yang kondisinya prima. Karena saat masuk ke area Waduk Kleco aka nada tanjakan yang cukup tinggi. Jika menggunakan mobil mungkin bisa namun jalannya sangat sempit sekali. Butuh keahlian khusus memang agar bisa menemukan tempat terpencil diantara perbukitan Menoreh ini. 

Air terjunnya yang mini


Pariwisata di Gunung Kidul dari tahun ke tahun semakin menggeliat. Banyak tempat wisata baru yang dibuka untuk umum dan mulai digarap dengan serius. Salah satu tempat wisata yang baru dibuka adalah Air Terjun Kedung Kandang. Letaknya tak jauh dari lokasi desa wisata Nglanggeran. Aku bersama teman memutuskan kesana setelah melihat postingan foto orang-orang di instagram yang terlihat cantik. Sebenarnya aku sudah menduga jika nanti saat kesana akan mendapatkan view yang berbeda dari foto-foto yang diupload di instagram. Tapi karena berhubung aku tau ini tempat wisata baru dan pastinya masih sepi, akhirnya aku memutuskan untuk kesana. Menemukan lokasi wisata Kedung Kandang tidaklah sulit, di GPS sudah ada lokasi tepat air terjun Kedung Kandang. Jika sudah memasuki kawasan Desa Wisata Nglanggeran nantinya juga banyak papan petunjuk yang mengarahkan menuju lokasi. Untuk orang dari luar kota yang ingin kesana tak akan sulit untuk menemukannya. 
 
Tiket masuk menuju lokasi 7000 rupiah per orang dan tarif parkit motor 2000 rupiah. Menurutku itu harga yang agak mahal mengingat Kedung Kandang masih termasuk wisata yang baru dibuka, but that’s ok untuk sekedar membantu mengembangkan wisata disana. Tempat wisata tersebut memang masih benar-benar baru sepertinya, terlihat waktu aku kesana sedang ada pengerjaan jalan dan sejumlah alat berat. Memang masyarakat desa wisata Nglanggeran benar-benar serius dalam mengembangkan potensi wisata di daerah mereka. Fasilitas yang ada disana baru sekedar kamar mandi dan gazebo-gazebo. Belum ada rumah makan yang buka. Sepanjang perjalanan aku hanya mendapati satu warung yang menjual minuman dan makanan ringan.

Pemandangan sekitar Gazebo

Hal yang paling tak terduga dari kunjunganku ke Kedung Kandang bersama teman yang datang dari Malang dan Semarang adalah kami harus berjalan setidaknya 800 meter dari tempat parkir motor. Awalnya kami sempat syok, karena energi kami sepertinya sudah berkurang karena baru saja melalui tanjakan-tanjakan tinggi sepanjang perjalanan dari Jogja ke Gunung Kidul. Namun karena sudah terlanjur berencana kesana dan sayang sekali sudah sampai lokasi, akhirnya kami memilih untuk tetap melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan yang katanya mencapai 800 meter menuju air terjun Kedung Kandang tersebut kami melalui sawah-sawahan berbentuk terasering, pepohonan yang rapat, dan vegetasi tumbuhan yang entah apa namanya. Di kejauhan terhampar wilayah Gunung Kidul lainnya yang tertutup pepohonan dan juga bukit-bukit. Setelah menemukan gazebo pertama, akhirnya kami istirahat dan menghabiskan waktu untuk mengenang masa-masa SMA saat aku dan teman-teman bersama. Asyiknya pergi ke tempat wisata baru yang masih sepi pengunjungnya adalah kita mendapatkan kebebasan untuk melakukan apapun. Seperti halnya ketika bersantai di gazebo, kami bebas berlama-lama tanpa ada yang mengganggu. Berbeda ketika pergi ke Mangunan yang saat ini ramai dengan wisatawan, pasti hanya sekedar santai di gazebo dan mengobrol bersama teman pun tak nyaman karena terlalu ramai oleh pengunjung. 

Keunikan air terjun Kedung Kandang karena ceruknya

Setelah melepas kepenatan sesaat, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuruni bukit. Jalanan masih sempit dan mengerikan karena jika salah langkah bisa tergelincir. Tak lama setelah melalui jalan menurun, Kami menemukan gazebo lagi yang terlihat kurang terurus. Kami terus berjalan hingga melewati sungai kecil yang airnya sedikit. Tak lama setelah menyusuri sungai itu terdapat air terjun bertingkat yang memilki banyak cekungan-cekungan. Akupun tidak tau bagaimana cekungan-cekungan tersebut dapat terbentuk. Dari tingkatan air terjun satu ke tingkatan lainnya kami menaiki tali-talian untuk memanjat. Sayangnya airnya tidak cukup deras mengingat saat ini masih musim kemarau, jadi air terjunnya pun tidak terlalu deras debitnya. Tak lupa kami mengabadikan momen-momen dibawah air terjun sebagai kenang-kenangan. Setelah itu kami bergegas naik keatas bukit lagi karena tidak tahan dengan teriknya mentari. 

 
Semangat Naik Turun bukit



Dalam perjalanan kembali ke atas bukit untuk menuju starting point kami bertemu dengan wisatawan mancanegara. Mereka terlihat antusias sekali menikmati perjalanan menuju air terjun, yang membuat kami merasa sangat kelelahan. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan dan melewati warung yang menjual minuman dan makanan ringan. Meskipun aku sendiri sangat lapar, kami tidak mampir kesana karena tidak menjual makanan yang mengenyangkan. Perjalanan kembali ke tempat awal menjadi semakin berat ketika perut ini semakin memberontak minta diisi. Kami berusaha berjalan lebih cepat melewati tebing-tebing mengagumkan sembari sejenak menikmatinya dan melupakan segala kelelahan. Setelah sampai di tempat parkir yang menjadi titik awal dan akhir dari perjalanan kami, kami bergegas untuk pulang dan mencari warung makan terdekat. Akhirnya Kami tutup perjalanan melelahkan hari itu dengan menikmati soto gerabah di salah satu warung makan di kawasan Bukit Bintang. Selain perut kami yang dimanjakan oleh nikmatnya soto gerabah, mata kami juga dimanjakan dengan pemandangan indah Kota Yogyakarta dari atas. Tapi aku sepertinya tak akan mau kesana lagi. Delapan ratus meter masih terasa melelahkan bagi kaki yang bahkan sudah pernah menginjak Merapi, Merbabu, Lawu dan tempat lain yang lebih jauh. Tapi aku yakin, kedepannya Kedung Kandang juga akan berbenah menjadi wisata yang fasilitasnya lengkap dan semakin banyak wisatawan yang datang kesana.