MENGEMBANGKAN DAYA TARIK BANGSA INDONESIA DI SEKTOR PARWISATA MELALUI KONSEP DESA WISATA


Oleh: Fatimah Bilqis





Indonesia adalah sebuah negara yang memiliki kekayaan alam, budaya, bahasa dan kesenian yang beraneka ragam. Dari setiap daerah di Indonesia memiliki ciri khas tersendiri yang menjadi daya tarik daerah tersebut. Kekhasan dari setiap daerah itulah yang kemudian dapat dijual melalui sektor pariwisata. Apalagi ditambah dengan keramahan masyarakat Indonesia, menjadikan Indonesia sebagai tempat yang nyaman dan aman untuk dikunjungi dan ditinggali.  Keberagaman alam, budaya, bahasa, etnis, dan kesenian yang ada di Indonesia dapat dimanfaatkan sebagai nilai jual dan dikembangkan melalui pariwisata.

Daya tarik ataupun ciri khas yang dimiliki bangsa indonesia dalam hal bahasa, budaya, alam, dan kesenian tidak banyak dimiliki oleh negara-negara lain. Sehingga seharusnya dengan daya tarik tersebut memudahkan Indonesia untuk menjual daya tarik yang mereka miliki. Namun jika kita lihat negara-negara seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura jauh lebih unggul dalam sektor pariwisata. Meskipun wisata yang mereka tawarkan juga memiliki banyak kesamaan dengan negara lainnya mereka terbukti mampu mendorong wisatawan untuk berkunjung ke negara mereka. berbeda denga Indonesia yang memiliki keanekaragaman suku, budaya, bahasa, kesenian hingga geografis dan pemandangan alamnya belum mampu secara maksimal mendorong wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia. Indonesia yang memiliki jauh lebih banyak potensi pariwisata, masih tertinggal jauh dari Malaysia yang mengadalkan sektor pariwisata sebagai devisa utama negara itu. Ketertinggalan Indonesia di sektor pariwisata dapat kita lihat dalam angka, bahwa pada tahun  2012 Malaysia mampu mendorong sebanyak 25 Juta wisatawan ke negara mereka, sedangkan di tahun yang sama Indonesia hanya mampu mendorong 8 juta wisatawan. Ketertinggalan di sektor pariwisata itulah yang seharusnya menjadi pekerjaan bagi pemerintah dan masyarakat untuk lebih serius memajukan sektor pariwisata di Indonesia.

Pemerintah Indonesia memang tidak hanya tinggal diam melihat ketertinggalan negara kita dengan negara-negara ASEAN di sektor pariwisata. Banyak langkah yang sudah menjadi terobosan untuk mendongkrak pariwisata Indonesia di mata dunia, diantaranya adalah menaikkan anggaran promosi pariwisata. Promosi adalah kegiatan yang sangat penting dilakukan untuk memperkenalkan suatu brand. Lewat promosi, pemerintah dapat menginformasikan, membujuk dan mengingatkan wisatawan untuk dikenal oleh masyarakat. Pariwisata Indonesia yang gencar dilakukan melalui media massa secara efektif akan mempengaruhi psikologi orang yang melihat iklan tersebut dan menumbuhkan rasa penasaran (curiousity) mereka terhadap Indonesia hingga akhirnya mereka memutuskan untuk berkunjung ke Indonesia. Tanpa adanya promosi yang besar-besaran melalui media massa, sulit sekali pariwisata Indonesia untuk dapat bersaing dengan negara-negara lain. Malaysia pun secara gencar melakukan promosi pariwisata mereka melalui media massa sehingga menarik masyarakat internasional untuk mengunjungi negara mereka. Diharapkan melalui peningkatan anggaran promosi dapat menyedot wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia. Hal lain yang dilakukan oleh pemerintah sebagai upaya untuk mendongkrak pariwisata Indonesia dimata dunia adalah dengan membuat kebijakan bebas visa bagi negara-negara tertentu. Dengan bebas visa, banyak masyarakat internasional yang tertarik untuk mengunjungi Indonesia. Diantara negara-negara yang bebas visa antara lain, jepang, Inggris, Korea Selatan, dan negara lain yang target nya masih digodok oleh pemerintah agar tepat sasaran. Dengan strategi seperti itu pemerintah berharap mampu mendorong wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia.

Untuk mengembangkan sektor pariwisata Indonesia diperlukan seluruh kontribusi dari masyarakat dan pemerintah. Melalui kebijakannya pemerintah dapat membuat aturan-aturan terkait pariwisata. Kemudian dalam sektor pembangunan, daerah-daerah yang akan dijadikan sebagai tujuan pariwisata harus digali kekhasannya dan dibangun infrastruktur dan transportasi yang menunjang kegiatan kepariwisataan. Tanpa adanya kemajuan dibidang tersebut, mustahil rasanya pariwisata Indonesia dapat berkembang bahkan bersaing dengan negara lain.

Salah  satu upaya untuk membangun pariwisata Indonesia bisa dilakukan dengan cara pembangunan bottom up, yaitu membangun dari bawah keatas. Melalui cara itu, dapat dilakukan dengan mengembangkan konsep desa wisata sebagai upaya membangun pariwisata Indonesia. Pengembangan desa wisata yang dikelola oleh masyarakat dan pemerintah setempat akan membawa dampak menyeluruh terhadap pariwisata nasional jika hal tersebut digarap dengan serius.

Nurhayati dalam (Susilo, 2008: 1 ) mengungkapkan desa wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi, dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku. Artinya program desa wisata sebagai salah satu upaya untuk membangun pariwisata Indonesia melibatkan seluruh elemen masyarakat dan pemerintah. Daerah-daerah yang akan diusung menjadi desa wisata harus memiliki kekhasan dan digali potensi pariwisata yang dimiliki, baik itu wisata alam, wisata budaya, wisata religi, wisata sejarah maupun kombinasi dari seluruh wisata tersebut. Setelah potensi pariwisata dari masing-masing daerah dapat digali kemudian dilakukan perencanaan terkait akomodasi dan fasilitas pendukung pariwisata lainnya. Wisatawan akan enggan untuk datang ke tempat-tempat yang sulit dijangkau dan fasilitas yang ada juga terbatas. Sebaliknya, jika akomodasi dan fasilitas memadai dan pengunjung mendapatkan kepuasan setelah melihat kekhasan dari desa wisata, maka mereka akan kembali lagi untuk mengulangi pengalaman tersebut.  

Perkembangan desa wisata di Indonesia saat ini bisa dibilang cukup pesat, saat ini sudah ada lebih dari 978 desa wisata yang tersebar di Indonesia. Setiap desa wisata tersebut mengusung keunikan desa mereka masing-masing. Daerah Yogyakarta merupakan daerah yang perkembangan desa wisatanya cukup pesat. Namun tidak semua dari desa wisata tersebut unggul di sektor pariwisata dan mampu mendatangkan banyak wisatawan. Banyak desa wisata yang juga sepi wisatawan dan juga ada pula desa wisata yang dibanjiri oleh wisatawan hingga membludak. Salah satu desa wisata di Jogja yang dibanjiri wisatawan adalah Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran. Wisatawan dari luar dan dalam negri terus berdatangan untuk melihat keunikan dan kekhasan yang ditawarkan oleh Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran tersebut. Desa wisata itu mampu menjual keunggulan yang mereka miliki kepada masyarakat karena beberapa faktor, diantaranya adalah fasilitas yang memadai, akomodasi yang mudah dijangkau, dan promosi yang giat. Meskipun mengunggulkan gunung purba sebagai keunikan mereka, Ekowisata tersebut menyediakan fasilitas yang cukup memadai seperti toilet, mushola, parkir, hingga gazebo untuk istirahat. Hal tersebut membuat pengunjung menjadi nyaman ketika mereka datang kesana. Mereka tidak lagi menemukan kendala-kendala karena fasilitas sudah disediakan oleh pengelola Ekowisata tersebut. Faktor lain yang membuat Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran banyak didatangi wisatawan adalah mudahnya akomodasi untuk mencapai kesana. Untuk wisatawan lokal biasanya mereka memilih transportasi pribadi seperti mobil maupun motor. Namun untuk wisatawan dari mancanegara maupun luar kota mereka lebih memilih untuk menggunakan jasa biro perjalanan. biro perjalanan sebagai agen pariwitasa ikut berperan dalam mempromosikan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran kepada para wisatawan sehingga bukan suatu hal yang mengherankan jika Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran mengalami kebanjiran wisatawan, apalagi ketika waktu libur panjang maupun weekend. Agen travel atau perjalanan biasanya menawarkan paket tur ke Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran dalam paket perjalanan mereka, dari situlah banyak wisatawan akhirnya terus berdatangan kesana. Faktor lainnya yang mempengaruhi banyaknya pengunjung kesana adalah dengan promosi yang mereka lakukan maupun yang pihak lain lakukan. Promosi yang dilakukan oleh pihak pengelola Ekowisata Gunung Api Purba dilakukan melalui media massa maupun media sosial. Pengelola memiliki website khusus yang berisi tentang seluruh informasi tentang Ekowisata Gunung Api Purba  Nglanggeran. Sehingga memudahkan wisatawan untuk mencari tahu bagaimana wisata yang ditawarkan oleh Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran. Kemudian media massa juga berperan aktif memberitakan melalui media televisi, koran, maupun internet. Hal itu secara tidak langsung menginformasikan kepada masyarakat tentang Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran dan menggugah rasa ingin tahu mereka sehingga mereka juga ingin mengunjungi Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran. Kemudian banyak wisatawan yang telah berkunjung ke desa wisata gunung api purba nglanggeran memposting testimoni dan foto-foto mereka di media sosial. Secara tidak sadar mereka telah melakukan promosi terhadap Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran tersebut melalui media sosial yang mereka miliki. Akibatnya banyak orang yang penasaran dan bahkan ingin berkunjung ke ekowisata gunung api purba nglanggeran meskipun hanya melihat dari foto dan testimoni orang-orang yang sebelumnya pernah kesana.

Kemajuan yang dialami ekowisata gunung api purba nglanggeran tersebut seharusnya dapat dijadikan sebagai desa wisata percontohan yang strategi dan pengelolaannya dapat ditiru oleh desa wisata di Yogyakarta maupun desa wisata di seluruh Indonesia. Jika kesempatan ini dilihat secara serius oleh pemerintah, dan perkembangan desa wisata benar-benar diperhatikan oleh pemerintah, maka sangat mungkin sekali nantinya desa-desa wisata yang kecil itu dapat berubah menjadi desa wisata bertaraf internasional yang dikunjungi oleh wisatawan di berbagai belahan dunia.

Akhirnya nantinya sebuah keberhasilan di sektor pariwisata yang dilakukan melalui program pengembangan desa wisata tersebut dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, membuka lapangan pekerjaan baru, dan lebih jauh lagi dapat memberikan kontribusi untuk devisa negara melalui kunjungan yang dilakukan oleh wisatawan mancanegara. 


 Tulisan ini menjadi nominasi dalam Lomba "70 Wajah Indonesia tahun 2015" yang diselenggarakan FH UGM tahun 2015 dan dibukukan dalam buku berjudul "70 Wajah Indonesia"


Hamparan perbukitan Menoreh yang terletak di kabupaten Kulon Progo provinsi Yogyakarta menyimpan banyak sekali potensi wisata alam yang tersembunyi. Dengan semangat gotong-royong masyarakat yang hidup di sekitar pegunungan Menoreh mulai mengembangkan potensi wisata yang ada di lingkungan sekitar mereka. Mulai dari wisata yang hitz dikalangan anak muda seperti kalibiru, hingga potensi wisata air terjun kedung pendut, dan waduk sermo. Perkembangan sektor pariwisata di daerah tersebut mampu membuat ekonomi warga sekitar terbantu. Salah satu potensi wisata yang sekarang sedang digarap oleh masyarakat adalah Air Terjun Kedung Pendut. Terletak di rimbunnya pegunungan Menoreh di dusun Kembang, Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyodi dusun Kembang, Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo. 



Babat Alas
Dulunya di area sekitar Air terjun Kedung Pedut hanya dikunjungi masyarakat sekitar untuk mencari ikan. Karena akses jalan yang susah untuk menuju kesana, tidak banyak orang yang tau keberadaan air terjun yang cantik ini. Kemudian seiring tumbuhnya kesadaran masyarakat sekitar untuk menjadikan air terjun Kedung Pedut sebagai destinasi wisata bagi masyarakat, kemuadian muncullah ide untuk gotong-royong membangun dan membuka wisata Air Terjun Kedung Pedut. Masyarakat saling bergotong-royong untuk membuka hutan yang masih lebat atau istilahnya babat alas, hal itu dilakukan untuk membuat akses jalan menuju air terjun. Usaha lain yang dilakukan yaitu, membuat jalan setapak agar mudah dilalui para wisatawan, membuat jembatan, hingga membuat warung di sekitar area wisata Air Terjun Kedung Pedut. Perjuangan masyarakat untuk membangun wisata itu berbuah manis sekarang. Banyak sekali wisatawan dari luar kota yang datang untuk sekedar bermain air disana. Apalagi ketika hari libur tiba, dipastikan tempat itu dipenuhi dengan wisatawan. Karena antusiasme terhadap tempat wisata Air Terjun Kedung Pedut sangat tinggi, pengelola saat ini terus melakukan perbaikan fasilitas. Hal tersebut dilakukan untuk memudahkan pengunjung yang datang kesana.



Untuk mencapai Air terjun Kedung Pedut, jika kita berangkat dari kota Jogja mungkin akan terasa agak melelahkan karena memerlukan waktu lebih dari 1 jam. Namun ketika kita hampir sampai ke lokasi yang hendak kita tuju, kita akan dimanjakan dengan hijaunya perbukitan menoreh yang masih asri. Jalan menuju ke Air Terjun sudah sangat bagus meskipun harus melewati tanjakan dan tikungan. Setelah sampai disana, penat selama diperjalanan akan hilang ketika kita melihat betapa indahnya Air Terjun Kedung Pedut. Apalagi disekitar Air terjun Kedung Pedut itu terdapat kolam yang berbentuk cekungan, kedalamannya bisa mencapai 1 hingga 4 meter. Kolam paling atas berwarna hijau tosca sedangkan semikin kebawah air dikolam akan berwarna gelap. Saya sarankan agar Anda mencoba untuk berenang dikolam yang airnya dingin menyejukkan itu. Sehingga rasa penat sewaktu diperjalanan akan hilang. Apabila tidak bisa berenang, tak usah khawatir. Disana ada persewaan pelampung yang harganya murah sekali, hanya 5000 perak. Jika tidak suka bermain air dan tidak ingin berbasah-basahan, pengunjung bisa duduk santai di gazebo yang telah disediakan sambil menikmati pemandangan alam di sekitar. Atau bisa mencoba flying fox yang akan membawa Anda membelah perbukitan menoreh. Cukup hanya membayar 15ribu rupiah, pengunjung akan mendapatkan pengalaman yang mendebarkan.

Bersantai di Gazebo

Berenang di Kolam

Ketika sudah puas bermain air atau sekedar bermain flying fox dan berfoto-foto, bagi yang ingin mengisi perut yang kosong dapat membeli berbagai makanan dan minuman yang disediakan di warung-warung yang terdapat di area wisata. Bahkan ada juga warung yang menjual kopi khas Menoreh, namun sayangnya Saya kemarin belum sempat mencoba. Untuk ukuran tempat wisata, saya katakan bahwa makanan yang dijual disana sangat murah. Jadi jangan ragu-ragu membeli karena tidak akan membuat kantong jadi kempes.

Warung yang Menjual makanan dan minuman

Jika ingin mendapatkan waktu yang pas untuk kesana, Saya sarankan hindari tanggal merah dan hari libur. Karena pada saat hari libur, banyak sekali pengunjung yang datang. Tentunya ketika Anda ingin berenang dikolam tidak akan leluasa karena banyaknya pengunjung yang datang. Saya dan teman-teman kemarin sengaja datang di hari Jum’at. Ketika sampai sana, Kami jadi lebih leluasa untuk menikmati keindahan Air Terjung Kedung Pedut. Menikmati suasana alam yang asri, berenang dikolam seperti berada di kolam pribadi, foto selfie tanpa ada yan menghalangi, hingga berbincang dengan masyarakat yang ramah seperti sudah saling mengenal. Itulah mengapa wisata Air Terjun Kedung Pedut semakin banyak didatangi wisatawan, karena keindahan dan keramahan masyarakatnya membuat pengunjung merasa wajib untuk kembali lagi.

Asyiknya Selfie tanpa gangguan :)




Just Info !
Parkir Motor : 3000
Parkir Mobil : 5000
Tiket Masuk : 6000/orang
Flying Fox : 15000
Pelampung : 5000/item (sepuasnya)
Makanan : 5000-10000
Minuman : 2000-7000


Salah satu daerah di DIY yang terkenal dengan keindahan pantainya adalah Gunung Kidul. Pesona-pesona pantai berpasir putih dengan pemandangan bukit yang menyejukkan mata menjadikan pantai-pantai Gunung Kidul juara di hati para penikmatnya. Tetapi, secara pribadi aku paling malas jika main ke pantai Gunung Kidul. Selain karena jarak tempuhnya yang jauh, daerah selatan di pantai Gunung Kidul juga masih terasa asing untukku. Tapi berkat perjalanan kali ini aku jadi tau bahwa pengorbanan dari jauhnya perjalanan kesana akan terbayarkan dengan pemandangan yang tak bisa didapatkan di sudut kota Jogja manapun!


Pemandangan dari atas bukit Kosakora

Awalnya aku memang sudah menargetkan akan jalan-jalan ke pantai Gunung Kidul bulan Nopember. Namun karena pada bulan tersebut sedang sibuk-sibuk nya kuliah, target itu kemudian terlupakan hingga bergantinya bulan. Desember tiba dan liburan panjaaaaang pun tiba. Aku yang seorang anak perantauan merasa bosan dengan liburan di Jogja tanpa aktivitas yang menyenangkan. Kalau dulu ingin pergi jalan, tinggal chat Mas gebetan terus langsung cus berangkat. Tanpa banyak fafifu dan rencana, tapi semuanya langsung terlaksana gitu aja. Tapi semenjak si Mas pulang ke pulau seberang karena kuliah nya sudah selesai, akupun jadi merasa kehilangan travelmate ku. Mau ajak teman kuliah jalan, mereka pada pulang kalau libur datang. Mau ajak teman kenalan jalan, tentunya sungkan. Nah beruntung nih kali ini ada saudara sepupuku yang kuliah di Jogja ngajakin aku jalan ke Pantai Kosakora. Karena lagi selo, dan memang sudah merencanakan ingin liburan, esok harinya langsung berangkat setelah mengajak dua orang teman kampusku yaitu Arin dan Dina. 

Jam 8 pagi kami berempat berangkat dari Jogja kota. Ini adalah kali pertama aku ke pantai Gunung Kidul naik motor. Ada rasa was-was karena jalannya naik turun dan berkelok-kelok. Tapi kumantapkan dalam hati. Akhirnya kurang lebih perjalanan 2,5 jam kita sampai di Pantai Drini. Kukira awalnya sepi karena kami kesana hari Rabu. Namun ternyata pantai itu dipadati pengunjung yang umumnya dari luar kota. Karena tujuan kami ke Bukit Kosakora, yang jaraknya sekitar 2 kilometer dari Pantai Drini, kami tidak berlama-lama di Pantai Drini. Dari sana kami langsung bertanya kepada masyarakat di sekitar pantai tentang jalan menuju Bukit Kosakora. Ternyata sudah ada jalan khususnya dan kami tinggal mengikuti jalan setapak dan papan penunjuk jalan. 

Awalnya kukira tidak terlalu jauh antara Pantai Drini dengan bukit Kosakora. Namun ternyata kami harus melewati dua bukit dan melewati 2 pantai. Langsung saja aku lemas apalagi belum sarapan semenjak berangkat tadi pagi. Dua orang temanku pun ketika perjalanan ke Bukit Kosakora sempat ngomel-ngomel karena ketika jalan sama aku pasti diajak ke tempat-tempat yang adventourous. Aku jadi serba salah dengan mereka, apalagi mereka memang buka tipe orang yang suka jalan ketempat wisata yang menantang. Aku malah sebaliknya, meskipun lapar dan lemas, aku senang dapat melewati bukit yang sepi jauh dari hingar-bingar orang, dapat melihat hijaunya tumbuhan dan birunya awan. Sayangnya waktu kita menyusuri bukit, cuaca sedang panas-panasnya sehingga benar-benar membuat kami kelelahan. Akhirnya kami semua memutuskan istirahat di Pantai yang pertama kita lalui. Disana kami makan bekal yang sudah kami persiapkan dan mencari keteduhan dibalik tanaman pandan laut. Pantai itu tidak terlalu luas dan banyak sekali bebatuan besar dibibir pantai. Sehingga kamipun tidak tertarik untuk bermain-main dibibir pantainya.

Perjalanan melewati bukit

Setelah cukup beristirahat dan makan cemilan, kami akhirnya memiliki energi untuk melanjutkan perjalanan. Dijalan yang kami lalui kali ini, sudah tidak terlalu menanjak seperti jalanan yang kami lalui sebelumnya. Disekeliling jalan kami melewati ladang jagung dan rumah penduduk. Bahkan juga ada warung yang menjual aneka makanan dan minuman. Akhirnya kami kembali istirahat di warung tersebut dan menikmati minuman dingin. Rasanya sangat menyegarkan, mengingat waktu itu cuaca sangat panas. Kali ini tidak berlama-lama kami langsung melanjutkan perjalanan hingga tiba di Pantai Ngrumput. Pantainyai indah sekali dengan pasir putihnya yang menawan. Disisi timur dengan gagahnya terlihat tebing dari bukit Kosakora yang kami akan tuju. Karena cuaca sangat panas, kami sengaja tidak bermain dibibir pantai dan memutuskan untuk langsung naik ke Bukit Kosakora. 
 
Sebelum naik, ada petugas yang berjaga dan kami dikenakan biaya retribusi Rp.2000 rupiah per orang. Biaya itu untuk pemberdayaan kawasan wisata dan untuk kas Desa. Perjalanan kebukit kali ini cukup menguras energi. Meskipun sudah ada jalan setapak, tapi tetap saja jalan yang kami lalui curam. Bahkan bebatuan karang yang ada disekitar jalanan sangat tajam dan berbahaya jika kita tidak berhati-hati. Usahakan santai saja ketika akan naik keatas. Atur napas perlahan-lahan dan tetap fokus. Tidak lama kemudian alhamdulillah kami akhirnya sampai juga di Bukit Kosakora. Ternyata disana sudah ada banyak wisatawan yang lebih dulu sampai.

Tiba di puncak Kosakora
 
Terkadang jika kita melihat tempat wisata dari media sosial atau internet, akan ada dua kemungkinan. Pertama, bisa jadi tempat wisata yang kita datangi lebih bagus daripada foto-foto dan review yang ada di internet. Kedua, bisa jadi tempat wisata yang kita datangi lebih jelek daripada foto-foto dan review yang ada di internet. Bisa karena edit foto yang berlebihan, ataupun review tempat wisata yang dibagus-baguskan. Atau bisa jadi kita datang pada waktu yang tidak tepat?


Nah karena akupun juga mendapat bisikan untuk pergi ke Bukit kosakora dari internet, aku pun mengalami dua hal itu sekaligus. Pertama yang kurasakan adalah kecewa, karena bukit Kosakora yang kulihat di foto-foto instagram tidak secantik aslinya. Yang kulihat dan kukira, bukit Kosakora itu luas, hijau, sepi, dan adem. Namun ketika aku kesana, ternyata tempatnya tidak terlalu luas, rumput-rumput hijau pun hilang, entah itu karena musim panas atau karena hujan belum turun. Yang awalnya kukira sepi, namun ternyata ramai dan banyak pengunjung. Mulai dari emak-emak, traveller sejati, photographer, hingga tak ketinggalan para alayers. Mungkin Karena banyak pengunjung yang datang itulah sampai ada warung diatas sana. Ibuk yang punya warung menjual berbagai makanan dan minuman hingga menyediakan keperluan camping. Disana juga ada ayun-ayunan, yang disewakan dengan tarif 5000-10000 tiap orang. Wow, semakin komersil lah tempat wisata ini. 

Warung diatas bukit

Akhirnya kami istirahat ditikar yang disediakan ibuk yang punya warung. Sambil makan berbagai bekal yang dibawa dan ngobrol asyik dengan teman serta ibuk pemilik warung. Kami menanti matahari agak rendah untuk berfoto-foto dan turun ke Pantai Ngrumput menikmati pesona bibir pantainya.
Akhirnya pukul 4 sore kami semua turun kebawah. Awalnya kami ingin menikmati sunset, tapi karena matarahari tenggelam pukul 6 lebih kami memutuskan untuk segera pulang saja karena takut kemalaman dijalan. Kali ini kami sengaja mengambil jalan pulang melalui bibir pantai menuju kearah Pantai Drini. Nah perjalanan pulang inilah yang membuatku berpikir bahwa tempat wisata yang kutuju lebih menarik dari apa yang diceritakan di media sosial dan apa yang kulihat difoto. Karena saat perjalanan turun melalui bibir pantai menuju pantai Drini, kami menemukan hal-hal yang menyenangkan dan pemandangan yang sangat mempesona.

Foto berlatar tebing Kosakora yg gagah

Karena sudah sore, air sedang surut dan kami bisa melewati bibir pantai yang dipenuhi dengan bebatuan tajam, rumput laut, dan aneka hewan laut. Sangat disarankan untuk tetap memakai sandal ketika lewat dibibir pantai agar kaki tidak terluka. Sepanjang perjalanan, pemandangan sore sangat indah dan cahaya matahari kekuningan merefleksikan tebing-tebing yang kokoh di permukaan air. Para pemancing juga turun ke bibir pantai untuk mencari tangkapan ikan. Andai saja aku tidak terburu-buru, aku ingin ikutan mancing disana, pikirku. Kami terus mempercepat langkah dan kira-kira butuh waktu sekitar satu jam lebih untuk sampai di Pantai Drini. Setelah sampai, kami membersihkan tangan dan kaki kemudian langsung pulang menuju kota Jogja. 

Perjalanan ke Pantai Drini melwati bibir pantai

Awas! Bebatuannya curam


Ketika Pantai mulai surut, keindahan mulai tampak
 
Sebuah perjalanan yang tak akan kulupakan. Dan ternyata dua orang temanku yang sempat ngomel tadi juga merasa senang dan puas dengan perjalanan kali ini. Meskipun lelah dan menempuh perjalanan yang jauh, namun terbayarkan dengan pemandangan indah dan momen bersama orang terdekat.


Rute:
Jogja – Piyungan – Patuk – Sambipitu – Lanud TNI Gading Siyono – Bundaran Tuga BPD Lurus keTimur – Wonosari – Jalan Baron – Tanjungsari – Pos Retribusi Kawasan Pantai Gunung Kidul – Mengikuti Jalan Arah Pantai Drini – Trekking Bukit Kosakora (2km)

CP ibuk pemilik warung:  082325890937
(Bisa dihubungi ketika akan menyewa tenda atau tempat camping di Kosakora. Anak sekolah dan kuliah biasanya diberi harga murah)
Pengeluaran:
Tarif parkir motor                                             : @2000
Tarif Masuk kawasan wisatai pantai         : @10.000
Tarif Masuk Bukit Kosakora 2x                    : @2000
Tarif sewa ayunan                                           : @5000 dan @10.000
dll