Kawasan wisata Pantai Selatan di Bantul Yogyakarta udah semuanya aku kunjungi. Kesimpulannya, kawasan wisata pantai disana gak cocok untuk main air. Tapi pantai-pantai di Bantul punya daya tarik tersendiri. Meskipun wisatawan yang datang ke pantai dilarang untuk berenang, mereka bisa melakukan aktivitas lain yang tak kalah seru. Misalnya naik kuda di pinggir pantai, naik ATV bersama teman, berfoto dengan sunset yang indah, hingga mencicipi seafood yang lezat. 


Tapi gak semua pantai selatan di daerah Bantul menyajikan hidangan seafood. Beberapa pantai selatan yang terkenal wisata kuliner seafood nya adalah Pantai Depok, Pantai Goa Cemara, hingga Pantai Baru. Biasanya sih orang-orang yang memang ingin menikmati hidangan kuliner seafood di Pantai Selatan Jogja maka mereka akan pergi ke Pantai Depok. Pantai Depok memang terkenal sebagai pantai nelayan. Kalau kesana kamu bisa melihat perahu-perahu milik nelayan di sepanjang bibir pantai. Selain itu disana juga ada tempat pelelangan ikan. Jadi kamu yang pengen beli ikan segar bisa langsung kesana. Tapi kalau untuk makan-makan seafood bersama keluarga atau teman-teman maka lebih baik ke Pantai Baru. Pantai Depok menurutku kurang bersih, bau amis khas ikan, hingga aku sendiri kurang sreg dengan masakannya disana setelah beberapa kali mencoba makan seafood disana. 


Pantai Baru lokasinya masih masuk daerah Bantul dan berada di wilayah paling barat dari jajaran Pantai Selatan. Hal menarik yang bisa kamu lihat ketika ke Pantai Baru ini adalah disana ada beberapa kincir angin yang berfungsi sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid (PLTH). Dulunya listrik dari PLTH dipakai untuk kebutuhan listrik di warung-warung disana. Tapi apakah sekarang masih berfungsi atau tidak akupun kurang tahu.


Memasuki area Pantai Baru pengunjung akan dikenakan biaya retribusi Rp 6000 per orangnya. Lalu tak jauh dari pos retribusi kamu akan menemukan lokasi Pantai Baru. Pantai Baru juga ditumbuhi dengan pohon cemara udang seperti yang ada di Pantai Goa Cemara. Namun di Pantai Baru jumbah pohon cemara udangnya tidak sebanyak disana. Tapi paling tidak kalau kamu kesana waktu siang hari udara panas tidak terlalu terasa karena rimbunnya pohon cemara. Fasilitas yang ada di Pantai Baru pun cukup lengkap mulai dari kamar mandi, mushola, warung makan, parkir luas, hingga ada juga ATV buat berkeliling pantai. 


Waktu sampai di wilayah pantai akupun langsung menuju ke warung-warung makan yang menawarkan sajian seafood. Awalnya sempat bingung untuk memilih warung yang mana. Kemudian seorang ibu-ibu menghampiri kami dan menawarkan menu seafood disana sambil memperlihatkan ikan-ikan segar yang disimpan di sebuah box. Setelah mendengarkan penjelasan ibunya, akhirnya kami memilih untuk makan ikan cakalang bakar, seporsi cumi udang manis pedas yang harganya hanya Rp 20.000 dan tumis kangkung segar Rp 6000.


Cakalang  Bakar

Cumi Pedes Manis


Sayangnya aku kesana cuma berdua, jadi kalau dihitung-hitung lebih mahal harganya. Soalnya biasanya harga ikan akan dibanderol per kilonya. Namun karena datang cuma berdua, maka Ibu pemilik warung menawarkan paket nasi+minum+cakalang bakar dengan harga Rp 18.000 per porsinya. Setelah memesan makanan, akupun mencari tempat duduk yang nyaman. Di depan warung sudah tersedia meja dan tikar yang disediakan pemilik warung. Namun karena saat itu anginnya sedang besar dan aku kurang enak badan maka akhirnya aku memilih untuk makan di area dalam warung makan. 


Warung Makan Pilihan


Sekitar 30 menit aku menunggu makanan dimasak dan disajikan. Karena aku ngantuk, akupun sempat tertidur cukup pulas sewaktu menunggu makanan datang. Lapar dan ngantuk emang dua hal yang buat mood ku berantakan, maka tidur dulu adalah solusinya. Setelah makanan datang, akupun bangun dan senyum-senyum sendiri melihat makanan yang sudah siap disantap. Sebagai penggemar berat makanan laut maka aku selalu bahagia ketika bisa makan seafood. 


Di luar ekspektasiku yang kukira kami akan mendapatkan ikan cakalang berukuran kecil, ternyata yang dihidangkan adalah ikan cakalang dengan ukuran cukup besar. Apalagi porsi kangkung dan cumi udang pedas manis yang ku pesan juga tak kalah banyak. Ronde pertama aku habiskan ikan cakalang bakar dengan sambal kecap yang diberi potongan cabai dan suyur kangkung dengan porsi banyak. Terasa banget ikan cakalang diberi bumbu khusus ketika dibakar, bukan Cuma sekedar dibaluri kecap kemudian dibakar. Lalu setelah habis cakalang yang ada di piring, kemudian ronde kedua aku berjuang menghabiskan cumi udang yang ternyata didalamnya juga diberi potongan nanas. Aku jadi keinget masakannya umi dirumah. Biasanya kalau bosan masak cumi, diolah dengan cara dimasak pedas manis dan tak lupa diberi potongan nanas. Tapi untuk ronde yang kedua ini aku akhirnya menyerah. Meskipun dimakan untuk dua orang, kami gak bisa menghabiskannya.



Selesai makan, kamipun berjalan-jalan di area pantai. Terlihat beberapa orang asyik bermain di bibir pantai. Tapi mereka tidak berani berenang karena ombaknya yang besar. Akupun mencari spot nyaman untuk istirahat dan menemukan onggokan pohon mati yang biasa digunakan duduk. Untuk beberapa saat kami bersantai disana. Menurunkan makanan yang memenuhi perut, mengobrol tentang kegelisahan masing-masing, hingga menikmati suasana pantai yang hari itu tidak terlalu banyak dikunjungi wisatawan. 

 
In the middle of sunflowers

Hari Minggu biasanya aku lebih suka menghabiskan waktu di kamar, bersih-bersih, goler-goler, nonton, atau nge-list hal-hal yang harus dilakuin seminggu kedepan. Biasanya males kalo diajak main jauh waktu Hari Minggu, bagiku sih Hari Minggu itu waktunya nge-charge energi buat aktivitas seminggu kedepan. Soalnya sering nih kalo Hari Mingguku berantakan atau over activity, Seninnya jadi gak produktif.

Tapi beda lagi ceritanya kalo diajak main ke tempat-tempat yang deket di Hari Minggu. Kebetulan waktu Hari Minggu itu aku lagi selow dan juga males mau ngapa-ngapain, makannya waktu diajakin jalan-jalan sekaligus hunting foto di lokasi yang deket ya mau-mau aja. Awalnya rencananya di siang hari mau jeguran di salah satu curug yang ada di Bantul. Tapi ya namanya rencana, ada aja kendalanya. Ndilalah si Mada yang ngide buat jalan-jalan ketiduran, terus hari sudah terlalu sore buat jeguran. Akhirnya ide jalan pun tetap di gas tapi beda tujuan. Tujuannya berubah ke Pantai Goa Cemara di Bantul, Yogyakarta. 

Setelah empat orang yang super ribet (Aku, Mada, Wahyu, Nisa) akhirnya bisa ngumpul, kami pun langsung berangkat ke arah Pantai Goa Cemara. Meskipun aku udah berkali-kali main ke Pantai Goa Cemara, bodohnya aku yang emang lemah di navigasi, selalu mengandalkan bantuan GPS. Google Maps pun mengarahkan kami ke arah Pantai Goa Cemara yang melewati pintu gerbang utama. Jadinya kami pun harus bayar tiket masuk. Padahal kalo lewat jalan desa bisa jadi kan kami gak bayar tiket masuknya, hehehe. Dasar jiwa-jiwa mahasiswa yang sukanya gratisan!

Okelah tak apa bayar tiket masuk, batinku. Setelah melewati pintu gerbang masuk area wisata pantai, kami lewat jalan Pantai Samas dan menemukan keindahan lainnya disana. Hamparan kebun bunga matahari menarik perhatian Mada kala itu yang emang lagi pengen-pengennya hunting foto syantik ala-ala karena dia lagi bawa perlengkapan lighting dan lensa tele 200mm. Kamipun mengiyakan aja waktu diajak mampir ke kebun bunga matahari itu. Mungkin beda ceritanya kalau tadi lewat jalan desa ya gak jadi ke kebun bunga matahari. Di jalan Pantai Samas itu ada beberapa kebun bunga matahari yang gak gratis tentunya untuk bisa foto-foto disana. Kami berhenti di salah satu kebun bunga matahari Bantul yang letaknya di kiri jalan atau di bagian selatan. 

Setelah memarkirkan kendaraan dengan rapi, kami disambut dengan basa-basi penjaga wisata yang ramah. Tiket masuknya Rp 5000 per orang dan disediakan beberapa properti seperti topi yang bisa digunakan untuk berfoto. Sebenarnya kebun bunga matahari Pantai Samas tidak terlalu luas. Namun dikelola dengan baik oleh warga setempat. Bunga-bunganya kelihatan segar dan tumbuh besar. Beberapa area juga ditanami cabai dan tumbuhan lainnya. Kalau untuk foto-foto sudah cukup indah dan instagram-able lah. Cocok untuk mengisi kekosongan feed instagrammu dengan biaya yang murah. 

Waktu kami memasuki area kebun bunga matahari terlihat beberapa orang yang befoto dengan kamera DSLR. Beberapa diantaranya asyik mengambil foto selfie dengan kamera hengpong. Sore hari memang waktu yang tepat untuk berfoto disana. Cahaya matahari yang cukup, udara yang oke, ditambah dengan background yang natural akan membuat hasil fotomu terlihat kekinian seperti yang kamu lihat di akun-akun Instagram anak hits Jogja. Lebih ciamik lagi kalo kamu fotonya sedikit lebih niat dengan bantuan lighting tambahan, lensa yang bisa bokeh-bokehan, dan man behind the gun yang handal. Pasti hasilnya bisa bikin iri temen-temenmu dan mereka otomatis juga pengen diajakin kesana biar bisa dapet foto kayak gitu. Tapi pas kamu fotoin mereka pake kamera hengpong, ternyata hasilnya gak sesuai ekspektasi mereka. Hehehe



Lagi sibuk mengatur alat sebelum foto

Awal-awal kami coba hunting foto disana, gak terlalu banyak orang yang datang sehingga background bisa bersih dari orang-orang. Atau istilah lainnya gak ada noise waktu ambil foto. Aku yang emang gak niat buat jadi modelnya, dipaksa buat jadi model karena mereka gak punya pilihan lain selain Aku dan Nisa. Kalau tau jadi kelinci percobaan jadi model mah minimal aku gak pake baju komunitas dan niat dikit pake lipstik yang agak cetar. Ya tapi gak masalah sih karena hasil fotonya pun cakep banget. Fotonya pun terasa natural karena aku ngerasa ya itu foto serasa aku banget. Gaya casual dengan minimalis makeup dengan senyum dikit dan hasilnya tetep keliatan bening. Hahaha proud of them, Mada dan Wahyu, man behind the gun.


Foto pas masih sepi nih


Udah agak rame tapi masih bagus


Peralatan tempur yang dipake Mada yaitu kamera kesayangannya Canon 70D ditambah dua buah flash dan satu tripod untuk flash. Alasan kenapa Mada ngebet ngajak hunting karena dia lagi megang lensa tele ciamik 200mm yang emang hasilnya bikin senyum-senyum sendiri. Nagih banget difoto pake lensa ini dengan tambahan flash yang buat foto makin cetar. Waktu itu flash disetting di area belakang objek dengan bantuan tripod, sedangkan flash satunya ditembak dari depan sebelah kanan atau kiri objek tanpa bantuan tripod. Jadi ya harus gantian megangin flash dari depan. Aku yang gak terlalu ngerti buat ngatur flash ya Cuma bantu pegangin aja. Sisanya mereka yang ngatur.

Mada dan Wahyu ini emang udah sering motret. Jadi ya hasilnya gak usah diragukan lagi. Biasanya mereka kerja bareng buat motret wisudaan, mantenan, model, dokumentasi, pokoknya job motret apapun bisa lah mengandalkan mereka. Hasil-hasil foto mereka tersimpan rapi di laptop masing-masing, beberapa foto dipamerin di Instagram mereka @madadane_ dan @wahyuhp. Kalau butuh fotografer wedding Jogja, fotografer wisuda Jogja atau jasa sewa fotografer freelance Jogja bisa banget menghubungi mereka langsung di Instagram masing-masing. 


Gak bakat pose nih, kaku banget :')

Gak mau lama-lama jadi model yang diarahin ini-itu, akhirnya gantian si Nisa yang jadi modelnya. Aku sibuk dengan duniaku sendiri. Nyoba-nyoba motret pake kamera Sony A6000 ku yang sampai detik ini pun aku masih sering bingung cara maksimalin fitur-fiturnya. Parahnya, setelah aku capek-capek motret, aku salah mencet tombol dan semua data yang ada di memori kamera itu HILANG LANG LANG. how stupid I am.

Untung aku punya beberapa foto di hengpong. Waktu itu akupun nyoba motret pake Hengpong Xiaomi Redmi 5 Plus dan hasil kamera Xiaomi Redmi 5 Plus ini sebenarnya gak begitu mengecewakan. Di kondisi minim cahaya, karena waktu itu udah sore banget, hasil fotonya tetep bisa bagus. Kamera depan Xiaomi Redmi 5 Plus pun cukup bagus. Walau gak bagus-bagus banget. Hasil video Xiaomi Redmi 5 Plus gimana? Lumayan lah buat dokumentasi. Cukup oke buat dinikmati di layar hape 18:9 yang lagi kekinian itu. Well, aku masih penasaran hasil fotonya Xiaomi Redmi Note 5, hape yang sebenernya pengen dibeli tapi udah beli 5 Plus duluan. Syediiiih. 


Selfie pake Xiaomi Redmi 5 Plus. Kanan after edit di Lightroom mobile, Kiri versi aslik diambil jam set 6 sore


Kamera Belakang Redmi 5 Plus. Atas versi edit Lighroom Mobile, Bawah versi asli diambil jam set 6 sore


Setelah puas berfoto-foto dan kehabisan gaya sampai matahari pun udah mulai tenggelam, kami pun mengakhiri sesi hunting foto tersebut. Rencana ke Pantai Goa Cemara pun hanya wacana semata. Karena tidak mungkin kami lanjut ke pantai tapi hari sudah gelap. Mau lihat ombak pun juga gak keliatan. Padahal sore itu sunset nya indah banget. Aku pun sempet sedih karena gak bisa lihat sunset waktu itu di pantai selatan, the best place to see how beautiful sunset in Jogja. Tapi kuhibur diriku sendiri, “gak papa, masih ada sunset lagi esok hari”

Lebih terhibur lagi waktu Mada ngirim foto hasil jepretan yang masih fresh from the oven ke aplikasi chatting bernama WhatsApp. Hasilnya bener-bener bagus. Mada pun senang udah berhasil nyoba motret make lensanya dengan hasil yang ciamik, aku pun gembira bisa punya foto sebagus itu. Lalu dipaksalah aku buat upload foto itu di Instagram. Kemudian muncullah berbagai macam komentar netijen dengan berbagai macam perspektif yang berbeda. 


candid

Itulah sepenggal kisah hunting di kebun bunga matahari Pantai Samas Bantul yang singkat namun menyenangkan. Pulang dari sana kami ditawari penjaga wisata buat beli biji bunga mataharinya. Aku sih sebenarnya mau, tapi gak punya pekarangan buat menanam bijinya. Ya gimana dong, gak jadi beli deh. Setelah dari kebun bunga itu akhirnya kami pun masih hunting foto lagi buat tugas fotografinya Nisa, tugasnya masih sama kayak tugasku di tahun lalu. Nyari foto slow speed, bulb, freeze, panning. Selesai di kebun bunga matahari, akhirnya kami ke area Malioboro buat bantuin Nisa hunting foto tugasnya itu.





Thanks to Mada and Wahyu for amazing photos, mostly photos in this post are taken by them


foto dari atas mercusuar Pantai Pandansari


Bil pantai mana ya yang deket dan murah”, tulis Viqy di pesan WhatsAppnya

“Pantai Selatan Viq, deket”, Jawabku dengan sekenanya

“Yuk ke pantai”, ajak Viqy

“Ya ayo, ke Pantai Goa Cemara aja yang belum pernah kan kamu”, Kataku sambil berpikir kenapa kok tiba-tiba Viqy ngajak ke Pantai

Beberapa hari setelah percakapan itu, agenda pergi ke pantai kupikir menguap begitu saja. Tapi karena waktu itu hari libur dan aku merasa berdosa kalau nggak jadi ngajak Viqy ke pantai akhirnya kujadikan saja agenda tersebut. Aku tahu waktu itu dia sedang ingin pergi ke pantai Bukan karena dia ingin menikmati keindahan alamnya, namun disetiap perjalanan, akan ada hal yang ingin dia ceritakan. Mengungkapkan keresahan dan kegelisahan yang dia rasakan lewat sebuah perjalanan. Begitulah cara kami saling berbagi.

Niat awal memang ingin ke Pantai Goa Cemara, tapi setelah beberapa saat kupikir-pikir karena kami akan kesana pada waktu hari libur dan pasti Pantai Goa Cemara bakal ramai, akhirnya kuberikan alternatif pantai lainnya yang cukup menarik dikunjungi yaitu Pantai Pandansari. Pantai Pandansari memang dari segi fasilitas memang sangat kurang, namun di pantai itu punya satu keistimewaan yaitu Menara Mercusuarnya yang bisa dikunjungi wisatawan. Jadi buat kamu yang datang kesana bisa naik ke atas mercusuar sambil menikmati pemandangan pantai selatan dari atas mercusuar itu.

Niat awal ke pantai memang ingin menikmati sunset. Jadi waktu itu kami dari Kota Jogja berangkat pukul 3 siang, lalu sampai di lokasi tepat pukul 4 sore. Sampai di kawasan pantai terlihat tidak terlalu banyak wisatawan yang datang, meskipun kala itu hari libur. Sebelum naik ke atas mercusuar, aku mengajak Viqy untuk menikmati bibir pantai sejenak dan duduk-duduk sambil makan jajanan yang sudah dibawa sebelumnya.

Sayangnya, kondisi bibir Pantai Pandansari kurang menarik. Baik untuk dinikmati maupun berfoto. Apalagi ombak di pantai itu yang besar membuat was was pengunjung yang bermain ombak di bibir pantai. Terlihat orang tua selalu sigap menemani anak-anaknya bermain air di bibir pantai sambil berlari-larian kecil ketika ombak mendekat. Untungnya di lokasi Pantai Pandansari sana terdapat banyak pepohonan dan pohon cemara yang membuat teduh lokasi pantai. Jadi ketika kamu kesana pada waktu siang hari pun masih tetep bisa ngadem di bawah pepohonan cemara yang juga dilengkapi beberapa tempat duduk.


Setelah kira-kira satu jam puas menikmati pemandangan pantai di gazebo sambil menghabiskan makanan ringan, akhirnya kamipun beranjak ke atas mercusuar. Ketika akan masuk ke dalam mercussuar, tiba-tiba ada seorang ibuk-ibuk yang datang menghampiri kami dan mengatakan kalau ingin masuk mercusuar harus membayar Rp 5000 per orangnya. Kamipun bingung mau jadi masuk atau tidak ya. Akhirnya Viqy pun sepakat untuk masuk dan menyerahkan uang ke ibunya itu. Dalam hati aku kesel banget ada pungutan liar seperti itu. Padahal dulu waktu pergi kesana juga aku nggak kena biaya masuk segala. Ya iyalah, itukan hampir 4 tahun lalu. Waktu aku kesana sama Mas….. ah sudahlah



Setelah memasuki area dalam mercusuar, tangga-tangga melingkar menyambut kami. Ternyata banyak juga pengunjung yang sudah berada di atas puncak mercusuar sore itu. Ketika menaiki tangga-tangga tersebut, napasku terasa tersengal-sengal karena jumlah tangganya banyak banget. Sesekali aku berhenti untuk mengambil napas sebentar dan menengok pemandangan dari jendela kecil. Betapa indahnya pemandangan pantai yang terlihat dari atas. Setelah itu akupun kembali semangat dan melanjutkan hingga puncak mercusuar.

Sampai di atas puncak mercusuar, angin berhembus dengan kencang. Meskipun aku sudah pernah kesana, aku tetap saja takjub dengan pemandangan yang kulihat dari atas mercusuar. Sepanjang mata memandang, kulihat hamparan pantai selatan membentang. Jika di dari bibir pantai terlihat keganasan ombak pantai selatan, dari atas sini ombak tersebut terlihat tenang. Pemandangan kehijauan di sekeliling  juga terlihat menyejukkan mata. Sayangnya dari atas sini anginnya sangat kencang. Jadi buat kamu yang tidak tahan dingin bisa jadi bakal masuk angin setelah pulang dari puncak mercusuar itu.



Sayangnya sore itu cuacanya mendung berawan. Sunset yang kami nantikan pun tidak terlihat cukup indah. Sebenarnya kamipun sudah tahu bahwa hari akan berawan dan presentase untuk dapat sunset indah kecil sekali. Namun tetap saja kami berangkat dan memang benar dugaan itu. Niat hati ingin melihat sunset, malah kami melewatkannya. Karena angin yang cukup kencang, kami mencari lokasi duduk di sebelah timur mercusuar agar terhindar dari hembusan angin. Beberapa orang juga mulai terlihat turun dari mercusuar, tapi kami malah asyik mengobrol hingga langit terlihat gelap.



Jika kemarin sewaktu aku dan Viqy jalan ke alkid Jogja, akulah yang paling banyak menyampaikan kegelisahanku. Sekarang, berbalik Viqy yang menumpahkan kegelisahan-kegelisahannya. Sebagai temannya kuberikan saran terbaik, menyuruh dia untuk selalu semangat, dan menjalani proses kehidupan ini dengan sabar. Kamipun juga berujung membicarakan pada topik yang entah kenapa semakin sering dibahas untuk orang-orang seusiaku, yaitu Menikah.

Buat Viqy, dia masih siap untuk menuju ke arah sana dalam waktu dekat. Masih banyak pencapaian yang ingin dia raih. Sama dengan dia, akupun belum ingin berencana seserius itu dengan orang dalam waktu setahun atau dua tahun lagi. Padahal dulu ketika aku masih bersama dengan ‘orang itu’, aku merasa siap banget untuk membangun hubungan ke arah itu. Sekarang, entah karena harapanku sudah pupus, aku belum menemukan orang yang membuat hatiku mantap, atau memang aku ingin meraih hal-hal lain, seakan-akan konsep menikah malah semakin kabur dan jauh dari anganku.

Tapi di titik ini malah ada seseorang yang menginginkanku hidup bersamanya. Ah tapi aku tidak bisa menerimanya, terlalu banyak keraguan buatku melangkah. Akupun kadang tidak bisa membedakan apakah memang keraguan ini datangnya dari hatiku atau memang karena aku masih memiliki ‘rasa’ dengan orang yang dulu. Akupun tidak bisa menjawabnya.

Setelah hari semakin gelap dan tinggal kami saja yang berada di puncak menara, akhirnya kamipun bergegas untuk turun dan pulang. Meskipun menaiki anak tangga menuju atas mercusuar lebih menyiksa, namun menuruni anak tangga justru membutuhkan kehati-hatian. Dengan sabar dan penuh hati-hati, akhirnya kami sampai juga di bawah.



Suasana sudah gelap dan pengunjung pun sudah banyak yang pulang. Kami memarkirkan motor di dekat lokasi mercusuar. Namun ternyata kami disuruh bayar parkir lagi setelah mengambil motor. Padahal pada waktu masuk ke area pantai tersebut sudah ditarikin tiket untuk parkir. Ini lah yang menjadi hal yang paling menyebalkan dari tempat wisata. Banyak sekali pungutan liar yang membuat pengunjung nggak nyaman.

Akhirnya kami pulang dengan menggerutu sendiri. Niat hati pengen liburan ke tempat yang dekat dan murah, malah kena pungutan-pungutan liar yang bikin nda ikhlas. Yasudahlah ikhlasin saja yah!



 “Nggak mau ah main ke museum, bosen. Paling juga gitu-gitu aja.” Kata salah seorang perempuan generasi millenial yang terlihat tidak tertarik saat diajak untuk berkunjung ke museum.


Siapa bilang main ke museum itu membosankan?
Mungkin memang kebanyakan museum yang kondisinya tidak terawat di Indonesia terkesan membosankan untuk dikunjungi. Padahal jika di luar negeri, museum merupakan salah satu destinasi wisata favorit untuk dikunjungi. Misalnya saja museum Louvre yang ada di Paris. Museum itu selalu saja ramai dikunjungi oleh pengunjung dari berbagai belahan dunia. Rasanya memang jauh kalau membandingkan kondisi museum di luar negeri yang memang memiliki nilai jual dengan kondisi yang sangat terawat dengan museum-museum yang ada di Indonesia dengan kondisi seadanya dan kurang terawat.
Tapi tak semua museum yang ada di Indonesia membosankan dan tidak menarik untuk dikunjungi, lho. Salah satu kota yang sangat memperhatikan kondisi museum adalah Kota Yogyakarta. Cobalah kamu datang ke Jogja dan pergi ke museum-museum yang ada disana. Kondisi museumnya tidak hanya terawat dengan baik, namun juga memiliki koleksi lengkap hingga menarik untuk dikunjungi.



Salah satu museum di Jogja yang menarik untuk dikunjungi adalah Museum Sonobudoyo. Lokasinya yang berada di pusat Kota Yogyakarta, tepatnya di selatan alun-alun utara, membuat wisatawan dalam maupun luar negeri mudah menjangkau lokasi tersebut. Namun nama Museum Sonobudoyo memang tidak setenar museum Benteng Vredeburg yang berada di dekat Pasar Beringharjo. Untuk itu buat kamu yang sudah pernah berkunjung ke Benteng Vredeburg, maka untuk plesir berikutnya agendakanlah untuk berkunjung ke Museum Sonobudoyo.

Ada apa saja di Museum Sonobudoyo?
Memasuki kawasan museum SB, kamu akan disambut dengan petugas yang akan menjelaskan harga tiket. Harga tiket untuk masuk ke kawasan museum yaitu sebesar Rp 3000 untuk dewasa dan Rp 2500 untuk anak-anak. Sedangkan harga tiket untuk wisatawan mancanegara hanya Rp 5000 saja. Di sekeliling lokasi pembelian tiket itu kamu bisa melihat koleksi gamelan dan alat musik Jawa lainnya. Pada event-event tertentu, gamelan tersebut akan dimainkan untuk menambah kemeriahan acara. Memasuki ruangan museum, pengunjung dilarang membawa minuman. Pengunjung boleh menitipkan barang bawaan ataupun minuman yang dibawa di meja penjaga.

koleksi gamelan

Pertama kali masuk ruangan, kamu akan merasakan nuansa kebudayaan Jawa yang kental. Terdapat ornamen-ornamen ukiran kayu dan patung-patung replika yang menggambarkan orang-orang dengan kebudayaan Jawa. Masuk ke ruangan yang lebih dalam, kamu akan melihat peninggalan-peninggalan zaman prasejarah seperti replika peti kubur batu, dolmen, hingga alat-alat bersejarah lainnya pada zaman Neolitikum yang dulu hanya bisa kita baca di buku mata pelajaran sejarah waktu duduk di bangku SD. Tak hanya menampilkan benda-benda prasejarah saja, namun juga ada koleksi baju-baju adat Jawa hingga alat-alat permainan tradisional seperti dakon, yoyo, dan lainnya. 

Berbagai Koleksi Lainnya

Setelah selesai menelusuri lorong demi lorong di dalam museum, kamu akan menemukan bagian luar museum dengan gaya bangunan khas Bali dengan patung-patung dan ukiran yang khas. Buat kamu yang suka berfoto, spot tersebut menjadi spot yang menarik untuk berfoto. Keluar dari situ kamu akan melihat semacam pendopo kecil yang nyaman untuk duduk-duduk dan bersantai. Jika setelah berkeliling museum kamu merasa lelah, maka nikmati waktu sebentar disana dengan menikmati angin semilir.



Selain memiliki koleksi yang cukup lengkap dengan kondisi museum yang terawat dan sejuk, Museum Sonobudoyo ini juga memiliki halaman yang teduh. Beberapa pohon tumbuh di halaman dan rerumputan yang terawat rapi menjadikan halaman museum menjadi daya tarik tersendiri. Sewaktu kesana, terlihat para muda mudi sedang menikmati siang di halaman. Semilir angin pun membuat suasana lebih segar.







Hari itu tanggal merah dan cuaca cerah sekali. Mau jalan kemana juga bingung karena hari itu tanggal merah dan pastinya Jogja selalu ramai di tanggal-tanggal merah. Mau ngajak main jauh-jauh takutnya Viqy juga capek karena sibuk kerja terus. Namun cuaca cerah hari itu terlalu menggoda untuk dilewatkan. Kukatakan ke Viqy kalau sore nanti sunset nya bakalan bagus banget. Viqy pun setuju untuk jalan-jalan sore. Namun bingung mau menghabiskan sore dimana. Akhirnya tercetuslah ide buat ke alun-alun kidul, karena katanya dia belum pernah kesana.

 

Akupun tak percaya kalo Viqy gak pernah ke Alun-Alun Kidul, one of The famous place in Yogyakarta. Ya meskipun Viqy baru banget tinggal di Jogja, namun dia udah main ke banyak tempat-tempat wisata di Jogja. Bahkan dia pun udah pernah susur pantai di Gunungkidul segala. Ngecamp dari satu pantai ke pantai lainnya. Hal yang pengen banget aku coba di tahun ini, namun belum ada partner untuk merealisasikannya.

Setelah sampai di Alun-Alun Kidul ternyata benar kan dugaanku, Viqy udah pernah kesana sekali. Tapi waktu itu dia cuma sebentar mampir kesana. Lalu kami memarkirkan motor dan berjalan sebentar mengelilingi Alun-Alun Kidul. Sempat juga dia mencoba untuk melewati dua pohon beringin yang menjadi ikon dari Alun-Alun Kidul. Tapi baru beberapa langkah ternyata dia udah putus asa aja. 

Sebelum berangkat ke Alun-Alun Kidul (Alkid), akupun bilang ke Viqy kalo nyore di Alkid itu enaknya duduk-duduk sambil beli jajanan ringan seperti bakso bakar, cilok gajahan, es krim goreng, sampai bakwan kawi, kalau makanan beratnya kurang enak si menurutku. Beda lagi kalau kamu ke Alkid pagi hari, banyak banget makanan berat seperti nasi kuning, lontong sayur, susu segar yang whort to buy. Rasanya enak, harganya pun juga enak. 

Sambil jalan dan mencari-cari jajanan yang enak, kami mendengar suara riuh dari penjual es potong goreng, es krim favoritku sejak jaman kecil dulu. Kamipun tertarik untuk membelinya. Harganya untuk satu potong Rp 3000 saja. Namun pas kami beli 2 potong, jadi Rp 5000 aja. Biasanya Bapaknya akan ngasih gimmick macem-macem kalau ada mbak-mbak yang beli. Misalnya saja waktu itu setelah aku beli ada mbak yang beli dan Bapak Penjualnya bilang,
“buat mbaknya yang cantik dan manis saya kasih 5 ribu saja dua”
Bodo amat. Batinku sambil ngakak dalam hati. Tapi Viqy protes kok waktu dia beli gak di bilang manis dan cantik. Haha dasar LDR, gitu aja baper nduk. Aku aja yang jomblo sante wae kok.

Ee goreng, es potong

Habis beli es krim goreng terus kami bingung mau nyari duduk dimana. Kamipun lihat beberapa orang yang asyik duduk di area rerumputan di Alkid. Akhirnya kami ikut-ikutan duduk disana sambil menghabiskan es krim goreng yang cepat banget meleleh. In Quiet way,  kami menghabiskan es krim sambil mengamati perilaku orang yang datang kesana. Ada bule melintas dengan tinggi badan yang bak model papan atas, ada keluarga muda yang sibuk selfie berdua sedangkan anaknya dianggurin main gelembung sendiri, ada pasangan yang lagi mesra-mesranya, ada orang-orang dari luar kota yang nampak bahagia banget waktu nyoba ngelewatin dua pohon beringin walaupun ya gagal terus, lalu ada pula golongan orang-orang yang semangat hidup sehat dengan lari-lari muterin alun-alun. Dari pengamatan beberapa saat itu banyak golongan pengunjung dari kelompok-kelompok diatas. Sedangkan kelompok seperti kami yaitu dua orang sahabat yang satunya jomblo satunya lagi LDR sedang menikmati sore di alkid dengan memikirkan kenangannya masing-masing, mungkin sangat sedikit sekali jumlahnya.


Tapi itulah kami, duduk berdua, menikmati waktu bersama, namun pikiran melayang kemana-mana. Lalu pikiran kami dibuyarkan dengan suara riuh dari speaker penjual es goreng yang terdengar sampai ke seluruh penjuru Yogyakarta. Bapak penjual es goreng itu mengulang kata-katanya yang sama dengan susunan kata yang tidak sesuai dengan SPOK. Jadinya seperti ala-ala kalimat yang seringkali diucapkan oleh Vicky Prasetyo. Berantakan namun tidak kuasa untuk ditertawakan. Sontak kami berdua pun tertawa mendengar suara dari bapak tersebut.

Lalu kami membuka percakapan dengan menceritakan kisah masing-masing. Tentang kegelisahan Viqy menjalani cinta jarak jauh. Tentang kekecewaanku ditinggalkan orang yang sudah bertahun-tahun berada di hati yang sama. Dan Viqy tahu benar bagaimana hubungan aku dan sang mantan. Mulai dari hal remeh temeh hingga perseteruanku dengan si dia, Viqy pun tahu itu.

Setelah bermenye-menye dengan cerita masing-masing, akupun sampai lupa belum foto saat cahaya matahari masih oke untuk foto. Tau-tau hari cahaya matahari sudah redup dan digantikan dengan semburat orange di langit yang benar-benar indah. Ternyata benar prediksi kami kalau sunset hari ini bakal indah. Kami menikmati sunset indah sore itu di Alkid dan sesekali mengabadikan momen tersebut.



senja di alun-alun kidul


Sore pun berganti petang, namun bukan berarti keriuhan Alkid malah menghilang. Semakin petang, semakin banyak orang-orang berdatangan. Mobil-mobilan dengan lampu warna-warni dilengkapi lagu-lagu hits music prambors atau dangdutan mulai terlihat keluar dari kandangnya dan turun ke jalanan. Viqy pun ingin sekali naik mobil-mobilan itu, tapi ya masak Cuma berdua aja naiknya. Sepertinya lain kali kita harus kesana dengan anggota yang lebih banyak agar bisa diajak menggenjot mobil-mobilan bersama. Akupun jadi teringat dulu pertama kali ke Alkid berdua dengan sang mamas (mantan) diajak naik sepeda tandem, sepeda yang bisa buat dua orang itu lho. Waktu itu masih ada penyewaan sepeda jenis itu untuk berkeliling alun-alun. Tapi kok kemarin aku tak melihatnya lagi ya.
Ketika petang menjelang, warung-warung penjual jagung bakar pun menggelar lesehannya. Kami yang belum ingin pulang melanjutkan duduk-duduk di lesehan berupa tiker yang digelar diatas rerumputan. Kamipun memesan jagung bakar dan Viqy mencoba Thai Tea yang dijual tak jauh darisitu. Setelah datang pesanannya, kamipun sepakat kalau jagung bakarnya tidak terlalu enak. Yaaaa B aja lah atau biasa aja. Viqy yang agak kesel terus ku kasih tau kalau emang jajanan di alkid itu gak menjual rasa, namun mereka menjual moment. Mungkin buat aku yang tinggal di Jogja, makan jagung di Alkid ya biasa aja. Tapi buat orang dari luar kota, mereka akan menikmatinya. Menikmati momen-momen makan jagung sambil lesehan dengan lampunya yang temaram bersama sang belahan jiwa. 

Viqy menikmati jajanan di alkid


Akhirnya sambil lesehan dan makan jagung bakar, kami pun berbagi cerita lagi. Dari dulu, sejak masa SMA, Viqy selalu menjadi orang yang bisa kubagi cerita tentang hal yang tidak bisa kuceritakan pada orang lain. Itu karena ketika aku cerita, she never blame on me, she never think me insane, she never judge me that I’m a fool. Yang dia lakukan yaitu mendengarkan, bertanya, dan ngasih saran. Rasanya sedikit lega menceritakan apa yang tidak bisa aku ceritakan ke orang. Mendapatkan saran atas kegelisahanku. Hingga akhirnya she gimme some advices

“Dia tidak suka sama kamu. Mungkin he’s just playing with you. Datang ketika butuh. Pergi ketika jenuh. Dan dia tidak akan pernah jatuh hati padamu. Jadi jangan sampai kamu jatuh hati pada orang seperti itu.”

Lalu akupun membahas orang yang berbeda, orang yang terang-terangan serius namun sampai sekarang aku tak bisa menerimanya karena berbagai pertimbangan. Lagi-lagi Viqy ngasih saran akan kegelisahanku

Kalo kamu suka, ya gak masalah. Tapi kalo gak suka, ngomong aja dari awal. Jangan terus-terusan seperti sekarang ini.”

Mendengar saran-saran dari Viqy aku sedikit tercerahkan. Intinya aku harus berani bersikap. Ngomong “nggak” untuk sesuatu yang tidak aku suka. Bilang “Iya” untuk sesuatu yang kuyakini.

Akhirnya selesai obrolan itu kamipun bergegas untuk pulang. Daripada lama-lama disana nanti semakin banyak pengamen yang datang.